Blog entries about Share ITS

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 ... 40 ()
Gambar dari RIFQI ZAIN 2216105043
by RIFQI ZAIN 2216105043 - Tuesday, 10 October 2017, 02:24
Anyone in the world

Sebuah pendekatan lain yang berfungsi untuk mempelajari lebih jauh mengenai model dari berpikir sistem adalah analisis medan gaya yang dibahas oleh Kurt Lewin dalam bukunya “Resolving Social Conflicts”. Analisis Medan Gaya (FFA) merupakan sebuah tool untuk membedah suatu perubahan. Pendekatan ini muncul dengan ide “Kekuatan apa yang menyebabkan perubahan dan apa yang menghambat suatu perubahan?”. Kerangka berpikir ini memberikan perspektif sistem pada sebuah isu.

 

Konsepnya sederhana. Pada suatu saat, sebuah organisassi berada pada titik ekuilibrium; Artinya, terdapat keseimbangan antara kekuatan yang berlawanan. Tanpa keseimbangan ini, operasi-operasi tidak dapat berjalan dengan normal. Ketika satu ide baru akan mengubah cara suatu organisasi beroperasi, hal ini mengancam keseimbangan. Namun gaya-gaya yang mempertahankan status quo atau keseimbangan biasanya menghambat perubahan. FFA memberikan cara yang bermanfaat untuk mengilustrasikan dinamik ini.

 

Sebagai sebuah contoh, terdapat suatu isu terkait dokumen organisasi. Ketika wakil presiden akademik dalam sebuah institusi perguruan tinggi menyatakan, “Kita harus menyederhanakan operasi dan menghilangkan sebanyak mungkin dokumen yang tidak diperlukan”, Anda mungkin bisa mendapatkan persetujuan dari fakultas, tapi kemudian perubahan itu tidak terjadi.

 

Kenapa? Analisis FFA dapat memberikan sebuah pemahaman terkait dengan sistem sebagaimana adanya dan kenapa terdapat penolakan terhadap perubahan.

 

Cara yang lebih produktif untuk menganalisis masalah adalah dengan membuat list dan memeriksa gaya gaya penyeimbang yang mencegah perubahan sebagaimana ditunjukkan pada tabel di bawah. Apakah sebuah jabatan di universitas ditentukan oleh seberapa banyak keputusan-keputusan yang harus ia tanda tangani? Jika ya, bagaimana kita dapat mengubah realita? Apakah anggota baru di fakultas cukup terlatih untuk menyelesaikan dokumen dengan benar? Jika tidak, kenapa? Dengan cara apa berbagai kebijakan memperkuat status quo? Bagaimana gaya-gaya itu terjadi? Apa yang dapat dilakukan untuk mengeleminasi gaya-gaya penolakan atau untuk mengarahkan mereka dengan cara tertentu sehingga mereka mendukung perubahan yang diajukan. Setiap pertanyaan memperluas pemahaman kita mengenai sistem dan membuka metode-metode yang memungkinkan untuk mendukung inisiatif.

 

Screen%20Shot%202017-10-10%20at%202.00.3

 
Anyone in the world

BEHAVIOR OVER TIME GRAPHS (BOTG)

Terdapat banyak alat dan metode yang tersedia untuk menganalisis data serangkaian waktu seperti me-manage data A. Arena peningkatan kualitas, misalnya menampilkan grafik run, diagram penyebaran, dan metode pengendalian proses statistik untuk menganalisis tren, keterkaitan, dan kemampuan sistem. Berbagai analisis regresi atau trend juga untuk mengidentifikasi korelasi antar variabel.   

            Satu Batasan yang jelas adalah bahwa regresi atau alat analisis data lainnya tidak ada guananya tanpa data. Namun, seringakli ada kekurangan data yanag tersedia untuk menganalisis masalah baru dan disitulah letak permasalahannya. Jika berfikir hanya menggunakan alat analisis data maka kita hanya berfokus pada variable-variabel yang memiliki data. Dan metode ini tidak realistis untuk mencoba melacak data untuk segala hal sebelumnya. Alat dan metode analisi data sangat berguna saat digunakan sebagai bagian dari proses pembuatan teori.

Associated Kursus: RE141668RE141668
 
Anyone in the world

SYSTEM THINKING

3 LAYERS OF EARTH 

3 Layers of earth merupakan 3 lapisan dari bumi yang terdi dari lapisan inti (core) yang merupakan lapisan paling dalam, lapisan mantel (mantle) yang berada diantara lapisan inti dan lapisan kerak, dan lapisan kerak (crust) yang merupakan lapisan paling luar dari bumi. 3 Layers of earth merupakan istilah yang merepresentasikan cara melihat sesorang pada suatu permasalahan dari suatu sistem tidak hanya dari luarnya saja tetapi juga melihat inti dari permasalahan sistem tersebut untuk menyelesaikan suatau permasalahan. Permasalahan pada suatu sistem direpresentasikan dengan gempa bumi yang terjadi di lapisan kerak bumi. Gempa bumi terjadi karena adanya gerakan mendadak di dalam Bumi. Gerakan mendadak di dalam Bumi dapat terjadi akibat adanya lempeng-lempeng Bumi yang berada di lapisan mantel yang saling bertabrakan, saling bergesekan atau saling menjauhi, dan pergerakan lempeng-lempeng bumi dipengaruhi inti bumi pada lapisan inti bumi. Sama halnya dengan suatu permasalahan, terdapat beberapa tipe orang dalam menyelesaikan suatu permasalahan, dimana ada yang melihat permaslahan dari luarnya saja, lalu ada yang melihat lebih dalam , dan ada yang melihat sumber dari permasalahan yang terjadi.

Salah satu contoh yang terjadi di Indonesia sekarang adalah penyebaran berita hoax. Berita hoax adalah adalah berita yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya, berita hoax dapat menciptakan perpecahan dan pertengkaran dalam masyarakat . 3 Layers of earth dapat merepresentasikan orang-orang yang merespon berita tersebut.

1. Lapisan Kerak

Lapisan kerak merupakan lapisan paling luar dari bumi merepresentasikan orang-orang yang merespon berita hoax secara langsung setelah membacanya, sehingga tidak mencari tahu apakah berita itu benar atau tidak. Orang-orang seperti ini cenderung lebih mudah untuk diprovokasi sehingga dapat menimbulakan permaslahan yang baru.

2. Lapisan Mantel

Lapisan mantel bumi yang merupakan lapisan antara inti bumi dan lapisan kerak bumi, lapisan mantel bumi merepresentasikan orang-orang yang merespon suatu berita dengan mencari tahu kebenaran dari berita tersebut sehingga dapat mengetahui apakah berita tersebut hoax atau tidak tetapi hanya sampai di situ saja, tidak ada tindak lanjut setelah mengetahui apakah berita tersebut hoax atau tidak. Orang-orang seperti ini cenderung pasif sehingga berita-berita hoax masih dapat tersebar secar bebas.

3. Lapisan Inti

Lapisan inti bumi yang merupakan lapisan paling dalam merepresentasikan  orang-orang yang merespon berita hoax dengan mencari tahu kebenaran dari berita tersebut sehingga dapat mengetahui apakah berita tersebut hoax atau tidak, setelah mengetahui berita itu hoax maka akan dicari siapa sumber atau pembuat berita tersebut sehingga dapat dilaporkan sehingga pihak berwenang dapat menghentikan penyebaran berita hoax.

       Contoh lainnya terdapat pada dunia industri adalah ada suatu permasalah pada suatu peralatan di suatu industri. 3 Layers of earth dapat merepresentasikan orang-orang yang menangani permasalahan pada peralatan tersebut


1.
 Lapisan Kerak

Lapisan kerak merepresentasikan orang-orang yang menangani permasalahan di dunia industri secara terburu-buru. Sebagai contoh jika terdapat permasalahan di perlatan industri maka orang-orang pada lapisan kerak cenderung terburu-buru menyelesaikan permasalahan tersebut dengan langsung mengganti peralatan tersebut dengan perlatan yang baru tanpa mencari tahu sumber permasalahannya. Sehingga tidak menyelesaikan permaslahan secara keseluruhan.

2. Lapisan Mantel

Lapisan mantel merepresentasikan orang-orang yang menangani permasalahan di dunia industri lebih baik daripada orang-orang pada lapisan kerak. Sebagai contoh jika terdapat permasalahan di perlatan industri maka orang-orang pada lapisan mantel mencari tahu permasalahan perlatan tersebut terdapat dimana tetapi belum sampai pada inti permasalahannya.

3. Lapisan Inti

Lapisan inti merepresentasikan orang-orang yang menangani permasalahan di dunia industri secara teliti dan cepat. Sebagai contoh jika terdapat permaslahan di perlatan industri maka orang-orang pada lapisan inti mencari tahu sumber atau inti permasalahan perlatan tersebut ada dimana, dan peralatan tersebut diperbaiki secara langsung, sehingga dapat memperbaiki peralatan dengan baik dan dapat menghindari permaslahan-permasalahan yang lainnya yang timbul.

Associated Kursus: RE141668RE141668
 
Anyone in the world

Men are blend in their own cause, manusia itu buta karena keyakinanannya sendiri

Ini adalah salah satu kata-kata bijak yang cukup populer dalam bahasa inggris. Pada kalimat ini seolah mengingatakan bahwa orang tidak mampu melihat kebenaran dari sudut  pandang orang lain. Jika sesorang benar-benar yakin akan pendapatnya sendiri, sehingga menyatakan bahwa hanya ia yang benar. Tentunya hal ini akan menjerumuskan ia, karena ia tidak bisa  melihat bahaya yang akan menimpanya.

Dalam suatu kasus, seseorang dihadapkan pada pilihan pekerjaan. Sebagian besar orang melihat bahwa pekerjaan dengan gaji yang besar adalah hal yang paling memuasakan, sebagian orang lagi beranggapan bahwa kenyamanan dalam bekerja adalah hal yang Utama. Padahal hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan pekerjaan adalah apakah kita sanggup bertanggung jawab atas hak yang kita dapatkan dari perusahaan. Sesorang merasa jika sudah diterima bekerja di perusahaan yang besar maka kepuasan hidup telah tercapai, malah sebaliknya ketika bekerja dengan gaji yang besar itu berarti kita diberi tanggung jawab yang besar pula. Banyak para karyawan, khususnya fresh graduate tidak memahami hal itu, sehingga timbul sifat malas dan mudah meyerah. Kita tetap harus belajar meski sudah bekerja di perusahaan besar sekalipun.

Kasus lain misalnya, orang yang berprinsip seperti ini akan mudah men-judge orang lain. Karena merasa dirinya benar ia akan berangapan orang lain salah. Pola pikir seperti ini tidak akan menutun seseorang ke suatu hal yang lebih maju. Baginya dirinyalah yang benar, tidak perlu masukan atau ilmu dari orang lain.

Untuk mengurangi sikap seperti ini, hendaknya kita banyak membaca serta mendengar apa yang ada disekitar kita. Jangan mudah mengambil suatu kesimpulan pribadi yang nantinya malah memperburuk keadaan. 

Associated Kursus: RE141668RE141668
 
Anyone in the world

aaas.JPG

 

Dalam bukunya, Theory U: Leading from the Future as It Emerges, Otto Scharmer memperkenalkan gagasan presencing. Presencing berasal dari gabungan dua kata presence (kehadiran) dan sensing (penginderaan). Presencing ditandai dengan keadaan kesadaran tingkat tinggi yang memungkinkan individu dan organisasi mengubah inner place (sisi dalam) keberadaannya. Ketika perubahan ini terjadi, seseorang atau organisasi mampu menghadirkan ruang masa depan. Esensi kepemimpinan menurut Teori U adalah kemampuan menfasilitasi perubahan sisi dalam seseorang atau organisasi untuk menangkap masa depan dan mengeksplorasi dengan penuh kreativitas.

 

Dalam menggambarkan Teori U, Scharmer meletakkan pondasi bahwa seseorang haruslah berani untuk “menerima” dan “menjawab” situasi tidak hanya dengan cara mengunduh, namun juga melihat sepenuhnya (open mind), mengerti sepenuhnya (open heart), dan menerima sepenuhnya (open will), untuk kemudian mengembangkan keputusan berdasarkan hasil penerimaan itu. Scharmer melihat bahwa konstruksi systems thinkingkonvensional telah berhasil mengajak orang untuk open mind (lewat pemahaman atasevents, patterns, dan structure) dan open heart (lewat pemahaman atas mental model),namun belum sepenuhnya mengeksplorasi bagaimana sumber terdalam di diri kita mampu melihat dan menerima situasi tersebut dengan jernih melalui open will.

Dalam bukunya, Theory U: Leading from the Future as It Emerges, Otto Scharmer memperkenalkan gagasan presencing. Presencing berasal dari gabungan dua kata presence (kehadiran) dan sensing (penginderaan). Presencing ditandai dengan keadaan kesadaran tingkat tinggi yang memungkinkan individu dan organisasi mengubah inner place (sisi dalam) keberadaannya. Ketika perubahan ini terjadi, seseorang atau organisasi mampu menghadirkan ruang masa depan. Esensi kepemimpinan menurut Teori U adalah kemampuan menfasilitasi perubahan sisi dalam seseorang atau organisasi untuk menangkap masa depan dan mengeksplorasi dengan penuh kreativitas.

Dalam menggambarkan Teori U, Scharmer meletakkan pondasi bahwa seseorang haruslah berani untuk “menerima” dan “menjawab” situasi tidak hanya dengan cara mengunduh, namun juga melihat sepenuhnya (open mind), mengerti sepenuhnya (open heart), dan menerima sepenuhnya (open will), untuk kemudian mengembangkan keputusan berdasarkan hasil penerimaan itu. Scharmer melihat bahwa konstruksi systems thinkingkonvensional telah berhasil mengajak orang untuk open mind (lewat pemahaman atasevents, patterns, dan structure) dan open heart (lewat pemahaman atas mental model),namun belum sepenuhnya mengeksplorasi bagaimana sumber terdalam di diri kita mampu melihat dan menerima situasi tersebut dengan jernih melalui open will.

1. Co-initiating (Mulai Bersama): membangun niat umum. Berhenti dan dengarkan orang lain serta panggilan kehidupan apa yang harus Anda lakukan

Pada awal setiap proyek, satu atau beberapa individu kunci berkumpul bersama dengan tujuan membuat perbedaan dalam situasi yang benar-benar penting bagi mereka dan komunitas mereka. Ketika mereka menyatu menjadi sebuah kelompok inti, mereka mempertahankan niat umum berkaitan dengan tujuan mereka, orang-orang yang ingin dilibatkan, dan proses yang ingin mereka gunakan. Konteks yang memungkinkan kelompok inti semacam ini untuk terbentuk adalah proses mendengarkan yang dalam - mendengarkan apa panggilan hidup yang harus Anda dan yang lain lakukan.

2. Co-sensing (Merasakan Bersama): mengamati, mengamati, mengamati. Pergi ke tempat yang paling potensial dan dengarkan dengan pikiran dan hati yang terbuka lebar

Faktor pembatas perubahan transformasional bukanlah kurangnya visi atau gagasan, tetapi ketidakmampuan untuk merasakan - yaitu, untuk melihat secara mendalam, tajam, dan secara kolektif. Ketika anggota kelompok melihat bersama-sama dengan kedalaman dan kejelasan, mereka menjadi sadar akan potensi kolektif mereka - hampir seolah organ kolektif baru dari pengelihatan dibuka. Goethe menjelaskannya: "Setiap objek, dengan maksud baik, membuka organ penglihatan baru dalam diri kita".

Ilmuwan kognitif Francisco Varela pernah mengatakan kepada saya tentang sebuah eksperimen yang telah dilakukan dengan anak-anak kucing baru lahir, yang matanya belum terbuka. Mereka ditempatkan bersama dalam berpasangan, dengan satu di belakang yang lain sedemikian rupa sehingga hanya kucing yang lebih rendah yang mampu bergerak. Kedua anak kucing mengalami gerakan spasial yang sama, tapi semua kerja keras itu dilakukan oleh kucing yang lebih rendah. Hasil dari percobaan ini adalah bahwa kucing yang lebih rendah belajar melihat cukup normal, sedangkan kucing yang di atas tidak - kapasitasnya untuk melihat berkembang tidak memadai dan lebih lambat. Percobaan ini menggambarkan bahwa kemampuan untuk melihat dikembangkan dengan aktivitas seluruh organisme.

Dalam mengorganisasi pengetahuan manajemen, strategi, inovasi, dan pembelajaran, kita seperti kucing yang di atas - kita bergantung pada kerja keras para ahli, konsultan, dan guru untuk memberitahu kita bagaimana dunia bekerja. Untuk masalah sederhana, ini mungkin merupakan pendekatan yang tepat. Tetapi jika Anda berada dalam bisnis inovasi, maka cara kucing yang di atas tidak akan berfungsi. Hal terakhir yang tiap inovator sejati akan gantungkan adalah persepsi. Ketika berinovasi, kita harus pergi sendiri, bicara dengan orang, dan tetap berhubungan dengan isu sambil mereka berkembang. Tanpa hubungan langsung pada konteks situasi, kita tidak dapat belajar melihat dan bertindak secara efektif.

Apa yang hilang dalam organisasi saat ini dan masyarakat kita adalah seperangkat praktek yang memungkinkan penglihatan secara mendalam semacam ini - penginderaan - terjadi secara kolektif dan melintasi batas-batas. Ketika penginderaan terjadi, kelompok sebagai kesatuan dapat melihat peluang yang muncul dan kekuatan kunci sistemik dalam isu.

3. Presencing: terhubung ke sumber inspirasi dan kehendak bersama. Pergi ke tempat keheningan dan biarkan pengetahuan dalam muncul

Di bagian bawah U, individu atau kelompok dalam perjalanan U datang ke ambang yang membutuhkan "melepaskan" segala sesuatu yang tidak penting. Dalam banyak hal, batas ini seperti gerbang di Yerusalem kuno yang disebut "The Needle", yang begitu sempit sehingga ketika unta dengan banyak bawaan mencapai itu, pengemudi unta harus melepaskan semua barang bawaan itu agar unta dapat lewat - Sesuai Perjanjian Baru yang mengatakan bahwa "Lebih mudah bagi seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya memasuki kerajaan Allah".

Pada saat yang sama, kita tanggalkan aspek diri yang tidak penting (melepaskan), kita juga membuka diri untuk aspek baru dari masa depan diri tertinggi kita (membiarkan datang). Inti dari presencing adalah pengalaman kedatangan hal baru dan perubahan hal yang lama. Setelah grup melintasi batas ini, tidak ada yang tetap sama. Anggota individu dan kelompok sebagai keseluruhan mulai beroperasi dengan tingkat energi tinggi dan rasa kemungkinan masa depan. Seringkali mereka kemudian mulai berfungsi sebagai kendaraan yang disengaja untuk masa depan yang mereka rasa ingin muncul.

4. Co-creating (Mencipta Bersama): membentuk dasar (prototype) hal baru dalam contoh nyata untuk mengeksplor masa depan dengan bertindak

Saya sering bekerja dengan orang-orang yang terlatih seperti insinyur, ilmuwan, manajer, dan ekonom (seperti saya). Tapi ketika datang ke inovasi, kita semua telah menerima pendidikan yang salah. Dalam semua pelatihan dan pendidikan, satu ketrampilan penting hilang: seni dan praktek membentuk dasar. Itulah apa yang Anda pelajari ketika Anda menjadi seorang desainer. Apa yang dipelajari desainer adalah kebalikan dari apa yang disosialisasikan dan bisasakan untuk kita lakukan.

Saya masih ingat kunjungan pertama saya ke sebuah sekolah seni dan desain ketika saya adalah seorang mahasiswa doktoral di Jerman. Karena saya telah menerbitkan sebuah buku tentang estetika dan manajemen, seorang profesor desain di Berlin Academy of Arts, Nick Roericht, mengundang saya untuk mengajar bersamanya dalam sebuah lokakarya. Malam sebelum lokakarya, saya diundang untuk bertemu dengan Roericht dan lingkaran kelompoknya di loteng apartemennya. Saya sangat ingin bertemu kelompok itu dan melihat bagaimana desainer terkenal menata loteng apartemen Berlinnya. Saat saya datang, saya terkejut. Loteng itu luas, indah - tapi hampir kosong. Di sudut dapur yang sangat kecil berdiri sebuah wastafel, mesin espresso, beberapa cangkir, dan meja dapur kuasi. Tapi tidak ada lemari. Tidak ada mesin cuci. Tidak ada meja di ruang utama. Tidak ada kursi. Tidak ada sofa. Tidak ada kecuali beberapa bantal untuk duduk.

Kami memiliki malam yang hebat, dan kemudian saya mengetahui bahwa loteng kosong itu merefleksikan pendekatannya akan membangun dasar. Misalnya, ketika ia mengembangkan desain prototipe interior untuk kantor dekan di sekolah, dia mengeluarkan semua perabotan dan kemudian melihat apa yang terjadi di sana. Roericht dan murid-muridnya kemudian melengkapinya sesuai kebutuhan kepala sekolah yang sebenarnya - pertemuan yang dilakukannya dan semacamnya - menyediakan objek dan perabotan yang dibutuhkan dalam kenyataan. Membangun dasar menuntut bahwa pertama-tama Anda harus mengosongkan semua benda (melepaskan). Kemudian Anda menentukan apa yang benar-benar butuhkan (biarkan datang) dan menyediakan solusi prototipe untuk kebutuhan nyata. Anda mengamati dan beradaptasi berdasarkan apa yang terjadi selanjutnya.

Ini adalah pelajaran yang berharga bagi saya. Saya berpikir: Nak, jika profesor desain terkenal ini memiliki loteng tanpa apa-apa di dalamnya, kenapa sekolah-sekolah manajemen terbaik dan semua pemikir manajemen terkenal tidak bisa membuat desain organisasi yang sama-sama simpel yang membuang semua birokrasi yang tidak berfungsi?

Keesokan harinya kami mulai lokakarya sekitar pukul 1. Tugasnya adalah menciptakan papan permainan untuk semua cara yang ada dan alternatif dalam mengatur ekonomi lokal dan global. Sebuah tantangan desain yang cukup ambisius, pikirku. Tapi apa yang dikatakan Roericht berikutnya benar-benar mengagetkanku: "Oke, sekarang bagi menjadi beberapa kelompok. Jam 5 tiap kelompok mempresentasikan prototipe pertamanya". Saya tercengang. Di dunia ekonomi dan manajemenku, reaksi untuk tugas desain seperti ini seharusnya: "Pertama, itu terlalu besar. Anda harus mempersempit pertanyaannya. Dua, jika kamu melakukannya, butuh waktu setahun atau lebih untuk meninjau semua pekerjaan yang harus dilakukan mengenai topik itu. Lalu muncul dengan kesimpulan dan mungkin masukan untuk apa yang dilakukan selanjutnya". Tapi maju dengan prototipe dalam waktu empat jam? Pelatihan profesional saya bersikeras bahwa pendekatan ini kurang mendalam dan kurang dari segi metode. Tapi yang tidak saya sadar sebelumnya adalah maju dengan prototype kurang dari empat jam adalah metodenya. Saat metode konvensional berdasarkan pada penetrasi analitis, lalu buat desain cetak biru, lalu membangunnya, metode prototipe bekerja dengan berbeda. Pertama memperjelas pertanyaannya, kemudian amati, lalu bangun agar lebih dapat mengamati, lalu beradaptasi dan sebagainya.

Jadi, prototipe bukanlah tahap yang datang setelah analisis. Prototipe adalah bagian dari proses penginderaan dan penemuan di mana kita mengeksplorasi masa depan dengan bertindak bukan dengan berpikir dan merefleksikan. Ini adalah seperti titik sederhana - tapi saya telah menemukan bahwa proses inovasi dari banyak organisasi berhenti di sana, di metode analisis lama tentang "kelumpuhan analisis".

Gerakan co-creation dari perjalanan U menghasilkan satu set contoh kehidupan kecil yang mengeksplorasi masa depan dengan bertindak. Ini juga menghasilkan jaringan pencipta perubahan yang bersemangat dan dengan cepat berkembang yang meningkatkan pembelajaran mereka di seluruh prototipe dan yang saling membantu dalam menghadapi tantangan inovasi apapun yang mereka hadapi.

5. Co-evolving (Berkembang Bersama): mewujudkan hal baru dalam ekosistem yang memfasilitasi penglihatan dan tindakan dari keseluruhan

Setelah kita mengembangkan beberapa prototipe dan mikrokosmos yang baru, langkah selanjutnya adalah meninjau apa yang telah dipelajari - apa yang bekerja dan tidak - dan kemudian menentukan prototipe mana yang memiliki dampak tertinggi pada sistem atau situasi yang ada. Datang dengan penilaian suara pada tahap ini seringkali memerlukan keterlibatan pemangku kepentingan dari lembaga dan sektor lain. Seringkali, apa yang Anda pikir akan Anda buat di awal proses U berbeda dari apa yang akhirnya muncul.

Hasil gerakan co-evolving di ekosistem inovasi yang menghubungkan inisiatif prototipe tinggi dengan institusi dan pelaku yang dapat membantu membawa ke tingkat berikutnya dalam uji coba dan penilaian.

Lima gerakan U berlaku baik di tingkat makro dari proyek inovasi dan arsitektur perubahan serta tingkat meso dan mikro dari kelompok percakapan atau interaksi satu lawan satu. Dalam seni bela diri Anda pergi melalui U dalam sepersekian detik. Ketika diterapkan untuk proyek-proyek inovasi besar, proses U terbentang selama periode yang lebih lama dan dalam bentuk yang berbeda. Jadi, komposisi tim di proyek-proyek seperti biasanya berubah dan beradaptasi untuk beberapa tingkat setelah setiap gerakan.

Associated Kursus: RE141668RE141668
[ Mengubah: Thursday, 12 October 2017, 20:49 ]
 
Gambar dari REWINDA 2216105064
by REWINDA 2216105064 - Saturday, 7 October 2017, 04:13
Anyone in the world

kisah-sebatang-pensil.jpg

Si anak lelaki memandangi neneknya yang sedang menulis surat, lalu bertanya, “Apakah Nenek sedang menulis cerita tentang kegiatan kita? Apakah cerita ini tentang aku?”

Sang nenek berhenti menulis surat dan berkata kepada cucunya, “Nenek memang sedang menulis tentang dirimu, sebenarnya, tetapi ada yang lebih penting daripada kata – kata yang sedang Nenek tulis, yakni pensil yang Nenek gunakan. Mudah – mudahan kau menjadi seperti pensil ini, kalau kau sudah dewasa nanti.”

Si anak lelaki merasa heran, diamatinya pensil itu, kelihatannya biasa saja.

“Tapi pensil itu sama saja dengan pensil – pensil lain yang pernah kulihat!”

“Itu tergantung bagaimana kau memandang segala sesuatunya. Ada lima pokok yang penting, dan kalau kau berhasil menerapkannya, kau akan senantiasa merasa damai dalam menjalani hidupmu.”

Pertama : Kau sanggup melakukan hal – hal yang besar, tetapi jangan pernah lupa bahwa ada tangan yang membimbing setiap langkahmu. Kita menyebutnya tangan Tuhan. Dia selalu membimbing kita sesuai dengan kehendak-Nya.

Kedua : Sesekali Nenek mesti berhenti menulis dan meraut pensil ini. Pensil ini akan merasa sakit sedikit, tetapi sesudahnya dia menjadi jauh lebih tajam. Begitu pula denganmu, kau harus belajar menanggung beberapa penderitaan dan kesedihan, sebab penderitaan dan kesedihan akan menjadikanmu orang yang lebih baik.

Ketiga : Pensil ini tidak keberatan kalau kita menggunakan penghapus untuk menghapus kesalahan – kesalahan yang kita buat. Ini berarti, tidak apa – apa kalau kita memperbaiki sesuatu yang pernah kita lakukan. Kita jadi tetap berada di jalan yang benar untuk menuju keadilan.

Keempat : Yang paling penting pada sebatang pensil bukanlah bagian luarnya yang dari kayu, melainkan bahan grafit di dalamnya. Jadi, perhatikan selalu apa yang sedang berlangsung di dalam dirimu.

Dan yang Kelima : Pensil ini selalu meninggalkan bekas. Begitu pula apa yang kau lakukan. Kau harus tahu bahwa segala sesuatu yang kau lakukan dalam hidupmu akan meninggalkan bekas, maka berusahalah untuk menyadari hal tersebut dalam setiap tindakanmu.

Associated Kursus: RE141668RE141668
[ Mengubah: Sunday, 15 October 2017, 10:43 ]
 
Anyone in the world

1%20Iq7fJbC3AOowdL9iOoivvQ.png

 

Terkadang, ide dapat muncul secara tiba-tiba tanpa bersusah payah mencarinya. Bahkan orang kreatif akan dengan mudah menemukan ide ketika dihadapkan dalam berbagai masalah. Seringkali ide kreatif tersebut terinspirasi dari hal-hal dan situasi yang tidak terduga. Namun bagi sebagian orang menemukan ide kreatif bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, diperlukan adanya teknik dalam berpikir kreatif.

 

Salah satu teknik berpikir kreatif yang telah ada disebut Silly Cow. Metode ini umumnya digunakan untuk menumbuhkan ide dalam berbisnis. Namun cara ni juga dapat diterapkan dalam berbagai persoalan lain yang membutuhkan kreativitas. Metode berpikir ini dapat dilakukan sendiri maupun dengan forum group discussion. Terdapat dua cara untuk menerapkan metode Silly Cow. Pertama, cara yang dapat Anda lakukan sendiri. Langkah awal yang harus Anda lakukan, coba pikirkan tentang sapi. Apa saja yang Anda ketahui tentang sapi? Misalkan : hitam-putih, daging, susu, berkaki empat, kotoran, daging glonggongan, suap kasus impor daging dan hal-hal lain yang langsung terpikirkan oleh Anda. Kemudian lanjutkan dengan pertanyaan “Apa yang berhubungan dengan hitam-putih?” “Apa yang berhubungan dengan daging?” dan seterusnya dan seterusnya. Teruskan hingga Anda mendapatkan banyak ide, kemudian pilihlah ide yang paling sesuai dengan permasalahan Anda.  

 

Cara yang kedua sebaiknya dilakukan berkelompok atau dengan forum group discussion. Cara ini lebih efisien dan efektif untuk memicu keluarnya ide-ide kreatif yang Anda miliki. Metode ini dapat diterapkan dengan sebuah game yang menyenangkan. Pertama, masing-masing partisipan menyebutkan tiga kata/hal yang berhubungan dengan sapi.  Dari seluruh kata yang terkumpul, instruktur memberikan 3 kata secara acak kepada masing-masing partisipan. Kemudian masing-masing orang dapat mengajukan sebuah ide dengan tiga kata yang telah dipilihkan. Metode ini memiliki tujuan utama untuk menjadikan peserta lebih inovatif dan berpikir ‘out of the box’. Kuncinya adalah spontanitas peserta ketika menyebutkan tiga kata. Setiap ide yang muncul, tidak peduli betapa konyol dan sangat tidak masuk akal, patut untuk diharga. Metode ini dapat dikembangkan dengan pemilihan tema selain sapi.

Selamat mencoba!!

 

Sumber :

http://adinhumanomics.tumblr.com/post/68169384859/idea-silly-cow-lotus-blossom-and-consumer

https://www.linkedin.com/pulse/silly-cow-instartups-anestis-tsoukalis

 

Associated Kursus: RE141668RE141668
[ Mengubah: Monday, 27 February 2017, 22:41 ]
 
Anyone in the world

 

Metode ini dilakukan dengan membangun ide-ide baru dari masalah yang ada. Berikut adalah langkah-langkah melakukan teknik lotus blossom.

  1. Letakan permasalahan utama kotak pusat.
  2. Buat ide-ide yang menyangkut permasalahan utama menggunakan ‘kelompak-kelopak’ di sekitar kotak permasalan utam.
  3. Ide-ide baru tersebut akan memacu ide-ide baru yang lain. Sehingga seakan-akan ide dari poin (2) menjadi ide pusat yang baru.
  4. Usahakan untuk membuat delapan ide baru menyangkut poin (3).
  5. Terakhir, bandingkan tiap ide yang ada dengan keadaan permasalahan yang dihadapi dan untung-rugi yang akan diperoleh pada tiap-tiap ide.

 

LotusFlower_1.jpg 

Gambar 1. Tabel sketsa lotus blossom.

 tumblr_inline_mwvnqd2WZ41sojwud.png

Gambar 2. Sketsa metode lotus blossom.

Bila pengembangan ide kreatif menggunakan metode ini sudah selesai, maka gambar sketsa idenya akan seperti gambar 2 di atas.

 

Sumber :

http://5by5design.com/advice/lotus-blossom-technique

http://members.optusnet.com.au/charles57/Creative/Techniques/lotus.htm

http://www.speech-topics-help.net/speaking-research-methods.html

Associated Kursus: RE141668RE141668
 
Anyone in the world

The software process is represented schematically in Figure 1. Referring to the figure, each framework activity is populated by a set of software engineering actions. Each software engineering action is defined by a task set that identifies the work tasks that are to be completed, the work products that will be produced, the quality assurance points that will be required, and the milestones that will be used to indicate progress.

 

Software%20Process.JPG

 Figure 1 

 

A generic process framework for software engineering defines five framework activities communication, planning, modeling, construction, and deployment. In addition, a set of umbrella activities-project tracking and control, risk management, quality assurance, configuration management, technical reviews, and others-are applied throughout the process. You should note that one important aspect of the software process has not yet been discussed. This aspect-called process flow-describes how the framework activities and the actions and tasks that occur within each framework activity are organized with respect to sequence and time and is illustrated in Figure 2.

A linear process flow executes each of the five framework activities in sequence, beginning with communication and culminating with deployment (Figure 2 a). An iterative process flow repeats one or more of the activities before proceeding to the next (Figure 2 b). An evolutionary process flow executes the activities in a “circular” manner. Each circuit through the five activities leads to a more complete version of the software (Figure 2 c). A parallel process flow (Figure 2 d) executes one or more activities in parallel with other activities (modeling for one aspect of the software might be executed in parallel with construction of another aspect of the software).

 

Defining a Framework Activity

Although I have described five framework activities and provided a basic definition of each software team would need significantly more information before it could properly execute any one of these activities as part of the software process. Therefore, you are faced with a key question : What actions are appropriate for a framework activity, given the nature of the problem to be solved, the characteristics of the people doing the work, and the stakeholders who are sponsoring the project?

 

Process%20Flow.JPG

 Figure 2

 

For a small software project requested by one person (at a remote location) with simple, straightforward requirements, the communication activity might encompass little more than a phone call with the appropriate stakeholder. Therefore, the only necessary action is phone conversation, and the work tasks (the task set) that this action encompasses are :

  1. Make contact with stakeholder via telephone.
  2. Discuss requirements and take notes.
  3. Organize notes into a brief written statement of requirements.
  4. E-mail to stakeholder for review and approval.

If the project was considerably more complex with many stakeholders, each with a different set of sometime conflicting) requirements, the communication activity might have six distinct actions (described in Chapter 5): inception, elicitation, elaboration, negotiation, pecification, and validation. Each of these software engineering actions would have many work tasks and a number of distinct work products.

 

Identifying a Task Set

Referring again to Figure 1, each software engineering action (elicitation, an action associated with the communication activity) can be represented by a number of different task sets-each a collection of software engineering work tasks, related work products, quality assurance points, and project milestones. You should choose a task set that best accommodates the needs of the project and the characteristics of your team. This implies that a software engineering action can be adapted to the specific needs of the software project and the characteristics of the project team.

 

File%201.JPG

 Figure 3

Associated Kursus: KI142303BKI142303B
[ Mengubah: Saturday, 7 January 2017, 10:26 ]
 
Anyone in the world

Systems Engineering

Systems engineering encompasses all of the activities involved in procuring, specifying, designing, implementing, validating, deploying, operating, and maintaining sociotechnical systems. Systems engineers are not just concerned with software but also with hardware and the system’s interactions with users and its environment. They must think about the services that the system provides, the constraints under which the system must be built and operated, and the ways in which the system is used to fulfill its purpose or purposes.

There are three overlapping stages (Figure 1) in the lifetime of large and complex sociotechnical systems :

  1. Procurement or acquisition During this stage, the purpose of a system is decided; high-level system requirements are established; decisions are made on how functionality will be distributed across hardware, software, and people, and the components that will make up the system are purchased.
  2. Development During this stage, the system is developed. Development processes include all of the activities involved in system development such as requirements definition, system design, hardware and software engineering, system integration, and testing. Operational processes are defined and the training courses for system users are designed.
  3. Operation At this stage, the system is deployed, users are trained, and the system is brought into use. The planned operational processes usually then have to change to reflect the real working environment where the system is used. Over time, the system evolves as new requirements are identified. Eventually, the system declines in value and it is decommissioned and replaced.

 

11A.JPG

Figure 1

 

These stages are not independent. Once the system is operational, new equipment and software may have to be procured to replace obsolete system components, to provide new functionality, or to cope with increased demand. Similarly, requests for changes during operation require further system development.

The overall security and dependability of a system is influenced by activities at all of these stages. Design options may be restricted by procurement decisions on the scope of the system and on its hardware and software. It may be impossible to implement some kinds of system safeguards. They may introduce vulnerabilities that could lead to future system failures.

Human errors made during the specification, design, and development stages may mean that faults are introduced into the system. Inadequate testing may mean that faults are not discovered before a system is deployed. During operation, errors in configuring the system for deployment may lead to further vulnerabilities. System operators may make mistakes in using the system. Assumptions made during the original procurement may be forgotten when system changes are made and, again, vulnerabilities can be introduced into the system.

An important difference between systems and software engineering is the involvement of a range of professional disciplines throughout the lifetime of the system. For example, the technical disciplines that may be involved in the procurement and development of a new system for air traffic management are shown in Figure 2. Architects and civil engineers are involved because new air traffic management systems usually have to be installed in a new building. Electrical and mechanical engineers are involved to specify and maintain the power and air conditioning. Electronic engineers are concerned with computers, radars, and other equipment. Ergonomists design the controller workstations and software engineers and user interface designers are responsible for the software in the system.

 

11B.JPG

Figure 2

 

The involvement of a range of professional disciplines is essential because there are so many different aspects of complex sociotechnical systems. However, differences between disciplines can introduce vulnerabilities into systems and so compromise the security and dependability of the system being developed :

  1. Different disciplines use the same words to mean different things. Misunderstandings are common in discussions between engineers from different backgrounds. If these are not discovered and resolved during system development, they can lead to errors in delivered systems. For example, an electronic engineer who may know a little bit about C# programming may not understand that a method in Java is comparable to a function in C.
  2. Each discipline makes assumptions about what can or can’t be done by other disciplines. These are often based on an inadequate understanding of what is actually possible. For example, a user interface designer may propose a graphical UI for an embedded system that requires a great deal of processing and so overloads the processor in the system.
  3. Disciplines try to protect their professional boundaries and may argue for certain design decisions because these decisions will call for their professional expertise. Therefore, a software engineer may argue for a software-based door locking system in a building, although a mechanical, key-based system may be more reliable.

 

System Procurement

The initial phase of systems engineering is system procurement (sometimes called system acquisition). At this stage, decisions are made on the scope of a system that is to be purchased, system budgets and timescales, and the high-level system requirements. Using this information, further decisions are then made on whether to procure a system, the type of system required, and the supplier or suppliers of the system. The drivers for these decisions are :

  1. The state of other organizational systems If the organization has a mixture of systems that cannot easily communicate or that are expensive to maintain, then procuring a replacement system may lead to significant business benefits.
  2. The need to comply with external regulations Increasingly, businesses are regulated and have to demonstrate compliance with externally defined regulations (e.g., Sarbanes-Oxley accounting regulations in the United States). This may require the replacement of noncompliant systems or the provision of new systems specifically to monitor compliance.
  3. External competition If a business needs to compete more effectively or maintain a competitive position, investment in new systems that improve the efficiency of business processes may be advisable. For military systems, the need to improve capability in the face of new threats is an important reason for procuring new systems.
  4. Business reorganization Businesses and other organizations frequently restructure with the intention of improving efficiency and/or customer service. Reorganizations lead to changes in business processes that require new systems support.
  5. Available budget The budget available is an obvious factor in determining the scope of new systems that can be procured.

 

11C.JPG

Figure 3

 

In addition, new government systems are often procured to reflect political changes and political policies. For example, politicians may decide to buy new surveillance systems, which they claim will counter terrorism. Buying such systems shows voters that they are taking action. However, such systems are often procured without a cost-benefit analysis, where the benefits that result from different spending options are compared.

Large, complex systems usually consist of a mixture of off-the-shelf and specially built components. One reason why more and more software is included in systems is that it allows more use of existing hardware components, with the software acting as ‘glue’ to make these hardware components work together effectively. The need to develop this ‘glueware’ is one reason why the savings from using off-the-shelf components are sometimes not as great as anticipated.

Figure 3 shows a simplified model of the procurement process for both COTS system components and system components that have to be specially designed and developed. Important points about the process shown in this diagram are :

  1. Off-the-shelf components do not usually match requirements exactly, unless the requirements have been written with these components in mind. Therefore, choosing a system means that you have to find the closest match between the system requirements and the facilities offered by off-the-shelf systems. You may then have to modify the requirements. This can have knock-on effects on other subsystems.
  2. When a system is to be built specially, the specification of requirements is part of the contract for the system being acquired. It is therefore a legal as well as a technical document.
  3. After a contractor has been selected, to build a system, there is a contract negotiation period where you may have to negotiate further changes to the requirements and discuss issues such as the cost of changes to the system. Similarly, once a COTS system has been selected, you may negotiate with the supplier on costs, licence conditions, possible changes to the system, etc.

The software and hardware in sociotechnical systems are usually developed by a different organization (the supplier) from the organization that is procuring the overall sociotechnical system. The reason for this is that the customer’s business is rarely software development so its employees do not have the skills needed to develop the systems themselves. In fact, very few companies have the capabilities to design, manufacture, and test all the components of a large, complex sociotechnical system.

 

11D.JPG

Figure 4

 

Consequently, the system supplier, who is usually called the principal contractor, often contracts out the development of different subsystems to a number of subcontractors. For large systems, such as air traffic control systems, a group of suppliers may form a consortium to bid for the contract. The consortium should include all of the capabilities required for this type of system. This includes computer hardware suppliers, software developers, peripheral suppliers, and suppliers of specialist equipment such as radar systems.

The procurer deals with the contractor rather than the subcontractors so that there is a single procurer/supplier interface. The subcontractors design and build parts of the system to a specification that is produced by the principal contractor. Once completed, the principal contractor integrates these different components and delivers them to the customer. Depending on the contract, the procurer may allow the principal contractor a free choice of subcontractors or may require the principal contractor to choose subcontractors from an approved list.

Decisions and choices made during system procurement have a profound effect on the security and dependability of a system. For example, if a decision is made to procure an off-the-shelf system, then the organization has to accept that they have very limited influence over the security and dependability requirements of this system. These largely depend on decisions made by system vendors. In addition, off-theshelf systems may have known security weaknesses or require complex configuration. Configuration errors, where entry points to the system are not properly secured, are a major source of security problems.

On the other hand, a decision to procure a custom system means that significant effort must be devoted to understanding and defining security and dependability requirements. If a company has limited experience in this area, this is quite a difficult thing to do. If the required level of dependability as well as acceptable system performance is to be achieved, then the development time may have to be extended and the budget increased.

Associated Kursus: KI142303BKI142303B
[ Mengubah: Saturday, 7 January 2017, 10:23 ]
 
Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 ... 40 ()