Blog entries about Share ITS

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 ... 42 ()
Anyone in the world

Berpikir Sistematis (systemic Thinking)

Helicopter View

Muhammad Arieb Salam                                                                                                                      07111540000111

 

Helicopter view merupakan istilah yang merepresentasikan tentang cara melihat seluruh sistem dari berbagai aspek (tidak terpaku dalam 1 aspek) sehingga dapat menghasilkan keputusan terbaik untuk masalah pada sistem tersebut.

 

 Kalau pas naik helikopter, pasti akan terlihat dengan jelas bagaimana kondisi di daratan dengan jelas. Utuh hampir menyeluruh, lebih detail dan lugas. Daripada ketika naik ke atas gedung bertingkat, lalu memandang pemandangan daratan hanya satu arah saja (bila pandangan ke depan maka pandangannya memang satu arah saja), dan itupun tak semua daratan luas di bawahnya terlihat detail.

Helicopter views berarti memang tidak hanya satu tingkatan saja tetapi beberapa tingkatan sekaligus dari yang terdetail hingga yang terabstrak (mikro ke makro). Terkadang kita terjebak dalam tingkatan dunia mikro, kita mencoba mencari solusi pada tingkat mikro tetapi tidak menyelesaikan permasalahannya,. kenapa? Karena mungkin problemnya adalah pada struktur makronya.

Katakanlah sebagai contoh dalam organisasi perusahaan produksi baju. Sebuah keputusan manajemen pemasaran tidak semata menimbang keputusan dari satu pihak manajemen tersebut. Tetapi adalah kesemuanya dipertimbangkan. Menjadi satu kesatuan pertimbangan dengan tetap mengacu pada visi, misi dan tujuan perusahaan yang dicapai. Bukan semata tujuan dari manajemen pemasaran. Jadi tidak hanya waktu dirapatkan di lini manajemen atas-yang melibatkan semua lini manajemen-baru melibatkan semua manajemen (keuangan, operasi, pemasaran dan SDM). Tapi ketika dirumuskan di satu pihak, maka pertimbangan sudah harus mengacu pada seluruh lini manajemen.

Pemahaman sebuah helicopter view bisa dianalogikan sama dengan pemodelan secara visual dari metode mind map. Sebuah metode sederhana, tapi kemanfaatannya tidak sederhana. Cara pandang helicopter view dan metode mind map memang bukan solusi akhir sebuah masalah secara sempurna. Hanya sebuah cara pandang yang komprehensif. Masih diperlukan penyelesaiaan akhir dengan tindakan operasional di lapangan.

 

Associated Kursus: RE141668RE141668
 
Gambar dari MUHAMMAD ARIEF SETIAWAN 3316201004
by MUHAMMAD ARIEF SETIAWAN 3316201004 - Monday, 23 April 2018, 16:58
Anyone in the world

1.  (enrolment key: SPPU1, anggota: Arief Setiawan, Ansahri, Maria Angle, Adriana)

2. Lakukan studi literatur tentang Implementasi Sistem Pengendalian Pencemaran Udara Perkotaan (Sektor Transportasi dan Permukiman); sebagai kasus diambil satu contoh implementasi pada kota metropolitan di negara-negara maju  ---> Japan/paris

3. Buat Resume Implementasi SPPU Perkotaan (Sektor Transportasi dan Permukiman). Masing-masing Kelompok 1 Kota dengan referensi yang jelas.

4. Ambil Kasus Implementasi SPPU Perkotaan (Sektor Transportasi dan Permukiman) dari Kota-kota Metropolitan di Indonesia---->Kota Semarang

5. bandingkan Implementasi SPPU Kota Metropolitan di Indonesia dengan Implementasi SSPU Kota Metropolitan negara maju.

6. Buat resume akhir tentang kelebihan dan kekurangan (dari kedua Kota yang dibandingkan), minimal (boleh dikembangkan):

   6.1. Tentang historinya

   6.2. Perencanaannya dan target-target yang akan dicapai dalam tahap-tahap perencanaannya

   6.3. Pelaksanaan SPPU, dan sistem evaluasi

   6.4. Sistem Riset dan Pengembangan SPPU

7. Diselesaikan dalam waktu 1 Minggu, hasil di upload di share ITS

Associated Kursus: RE142414 RE142414
[ Mengubah: Monday, 30 April 2018, 13:44 ]
 
Anyone in the world

Berpikir kesisteman adalah suatu disiplin ilmu untuk melihat struktur yang mendasari situasi kompleks, dan untuk membedakan perubahan tingkat tinggi terhadap perubahan tingkat rendah. Tentu saja, berpikir kesisteman mempermudah hidup dengan membantu kita untuk melihat pola yang lebih dalam yang mendasari beberapa peristiwa dan detailnya (Senge, 1990). Salah satu bentuk berikir secara sistem yang saya angkat disini adalah berfikir secara cascade. Didalam ilmu kontrol sendiri, sering sekali ditemukan penggunaan sistem cascade dalam sistem pengaturan yang kompleks. Misalnya seperti penggunaan PID kontroller untuk sistem orde tinggi (lebih dari dua). Dikarenakan kontroller PID biasa digunakan untuk sistem orde 2, untuk mengatasi hal tersebut maka digunakan metode cascade controller. Metode cascade ini dilakukan dengan memecah transfer function plant kedalam bentuk yang lebih sederhana (orde 2 dan orde 1) yang disusun seri (cascade) yang kemudian masing – masing plant tadi diberikan kontroller P, I , dan D yang berbeda – beda tergantung yang diinginkan. Dengan menggunakan metode ini, maka kita bisa melakukan kontrol plant yang kompleks dengan kombinasi beberapa kontroller PID.

1.png

Apabila kita menggunakan konsep berfikir seperti sistem tersebut, maka kita dapat menyelesaikan suatu permasalahan dengan lebih mudah dan lebih efisien. Apabila terdapat suatu permasalahan yang cukup kompleks, maka kita bisa membagi permasalahan – permasalahan tersebut kedalam beberapa point sub masalah yang kemudian sub – sub masalah tersebut dapat dikaji masing – masing sehingga masalah yang kompleks tadi dapat terselesaikan dengan lebih baik.

2.png

Associated Kursus: RE141668RE141668
 
Anyone in the world

Diagram tulang ikan atau fishbone diagram adalah salah satu metode untuk menganalisa penyebab dari sebuah masalah atau kondisi. Sering juga diagram ini disebut dengan diagram sebab-akibat atau cause effect diagram. Penemunya adalah Professor Kaoru Ishikawa, seorang ilmuwan Jepang yang juga alumni teknik kimia Universitas Tokyo, pada tahun 1943. Sehingga sering juga disebut dengan diagram Ishikawa.

Fishbone Diagram atau Cause and Effect Diagram ini dipergunakan untuk :
•Mengidentifikasi akar penyebab dari suatu permasalahan
•Mendapatkan ide-ide yang dapat memberikan solusi untuk pemecahaan suatu masalah
•Membantu dalam pencarian dan penyelidikan fakta lebih lanjut
 
Fungsi  dasar diagram Fishbone (Tulang Ikan)/ Cause and Effect (Sebab dan Akibat)/ Ishikawa adalah untuk mengidentifikasi dan mengorganisasi penyebab-penyebab yang mungkin timbul dari suatu efek spesifik dan kemudian memisahkan akar penyebabnya. Fishbone Diagram sendiri banyak digunakan untuk  membantu mengidentifikasi akar penyebab dari suatu masalah dan membantu menemukan ide-ide untuk solusi suatu masalah.
 
Tahapan-tahapan menerapkan metode ini:
•Mengidentifikasi masalah
Identifikasikan masalah yang sebenarnya sedang dialami. Masalah utama yang terjadi kemudian digambarkan dengan bentuk kotak sebagai kepala dari fishbone diagram. Masalah yang diidentifikasi yang akan menjadi pusat perhatian dalam proses pembuatan fishbone diagram.
 
•Mengidentifikasi faktor-faktor utama masalah
     Dari masalah yang ada, maka ditentukan faktor-faktor utama yang menjadi bagian dari permasalahan yang ada. Faktor-faktor ini akan menjadi penyusun “tulang” utama dari fishbone diagram. Faktor ini dapat berupa sumber daya manusia, metode yang digunakan, cara produksi, dan lain sebagainya.
 
•Menemukan kemungkinan penyebab dari setiap faktor

    Dari setiap faktor utama yang menjadi pangkal masalah, maka perlu ditemukan kemungkinan penyebab. Kemungkinan-kemungkinan penyebab setiap faktor, akan digambarkan sebagai “tulang” kecil pada “tulang” utama. Setiap kemungkinan penyebab juga perlu dicari tau akar penyebabnya dan dapat digambarkan sebagai “tulang” pada tulang kecil kemungkinan penyebab sebelumnya. Kemungkinan penyebab dapat ditemukan dengan cara melakukan brain stormingatau analisa keadaan dengan observasi.

•Melakukan analisa hasil diagram yang sudah dibuat
    Setelah membuat fishbone diagram, maka dapat dilihat semua akar penyebab masalah. Dari akar penyebab yang sudah ditemukan, perlu dianalisa lebih jauh prioritas dan signifikansi dari penyebabnya. Kemudian dapat dicari tau solusi untuk menyelesaikan masalah yang ada dengan menyelesaikan akar masalah.
 
Terimakasih :) 
Associated Kursus: RE141668RE141668
 
Anyone in the world

Berpikir Sistem

“Rujak Cingur”

Berpikir kesisteman adalah suatu disiplin ilmu untuk melihat struktur yang mendasari situasi kompleks, dan untuk membedakan perubahan tingkat tinggi terhadap perubahan tingkat rendah. Tentu saja, berpikir kesisteman mempermudah hidup dengan membantu kita untuk melihat pola yang lebih dalam yang mendasari beberapa peristiwa dan detailnya (Senge, 1990). Sistem bersifat hierarchical tersusun dari subsistem – sub sistem yang merupakan sistem tersendiri.

Ada beberapa pemikiran yang harus diubah oleh individu agar dapat berpikir secara sistem dengan baik, dengan kata lain pola pemikiran individu harus lebih dibenahi serta dikembangkan lagi. Untuk menjelaskan hal tersebut dapat dilihat dari gambar berikut :

Gambar1.png

Pada gambar diatas, bagian kiri merupakan kecenderungan pola berpikir yang biasa dilakukan individu. Kemudian pola pemikiran tersebut seharusnya bisa lebih dikembangkan lagi, dengan membiasakan untuk berpikir lebih maju seperti pada bagian kanan.

Pola berpikir yang baik dianggap perlu karena di kehidupan sehari-hari ini individu akan dijumpai dengan beragam fenomena yang sangat dinamis, berubah dengan sangat cepat serta tidak menentu. Sebagai gambaran coba perhatikan gambar dibawah ini :

Gambar2.png

Fenomena yang kita alami dapat diibaratkan sebagai variasi rasa yang memungkinkan untuk dirasakan oleh lidah. Sehingga ketika individu kedatangan atau mengalami berbagai fenomena yang berbeda-beda tersebut individu harus sudah siap untuk mengatasi hal tersebut dengan pola pikir yang sesuai. Seperti itulah gambaran dasar dari sistem berpikir rujak cingur. Dengan banyak sekali rasa yang terkandung dalam rujak cingur, individu yang disini diibaratkan sebagai lidah harus mampu menangkap semua rasa atau fenomena tersebut dengan pola berpikir yang benar. Untuk itulah konsep sistem berpikir rujak cingur ini perlu dirumuskan.

Jika diamati berdasarkan struktur dan perilakunya, sistem berpikir rujak cingur ini sebenarnya mirip dengan sistem berpikir puncak gunung es. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dari analisa gambar dibawah ini yang berdasarkan struktur dan perilaku sistem :

Gambar3.png

Bisa dilihat bahwa dimulai dari persoalan dasar, yaitu dengan peralatan sebagai struktur sistem yang disini dijelaskan tidak standar, serta perilaku sistem yang disini digambarkan sebagai rasa dari rujak cingur yang berubah-rubah atau tidak konsisten. Akibatnya adalah konsumen tidak puas. Pada intinya, jika kita ingin pola berpikir yang baik, maka kita harus bisa membuat fenomena yang ada dan kita alami menjadi fenomena yang baik dan konsisten, dengan didukung pemikiran untuk langkah kedepannya, sehingga dari dasar itu akan sangat mempengaruhi baik tidaknya tindak keputusan yang akan kita ambil nantinya. Sebagai ilustrasi bisa dilihat gambar berikut :

Gambar4.png

Pada dasarnya, untuk membentuk sistem berpikir rujak cingur yang sesuai dengan kriteria diatas, kita harus mampu menangkap 3 hal, diantaranya adalah dengan apa yang kita amati disekitar individu, sifat individu umumnya secara naluri menanggapi fenomena yang terjadi  tersebut dengan berpikir reaktif. Namun, mayoritas dari individu kurang memperhatikan langkah selanjutnya, yaitu apa yang harus kita persiapkan untuk menghadapi fenomena tersebut jika suatu saat kembali terjadi, itulah berpikir antisipatif seperti halnya dalam membuat rujak cingur, harus antisipatif berdasarkan pengalaman agar rasa yang dihasilkan pas dan enak tanpa perlu mencicipinya terlebih dahulu.

Associated Kursus: RE141668RE141668
 
Anyone in the world

Adakalanya suatu sasaran improvement membutuhkan rincian  lengkap tentang bagaimana jalur dan tugas-tugas yang perlu dilakukan untuk mencapai sasaran tersebut. Dalam tujuh alat perencanan manajemen (7 management and planning tools) atau 7 New Quality Tools  terdapat diagram yang dapat mengungkap secara sederhana tentang besarnya suatu masalah serta mengurai apa saja langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk pemecahan masalah tersebut. Diagram itu dikenal dengan nama tree diagram atau atau diagram pohon.

Tree diagram (Diagram Pohon) adalah teknik yang digunakan untuk memecahkan konsep apa saja, seperti kebijakan, target, tujuan, sasaran, gagasan, persoalan, tugas-tugas, atau aktivitas-aktivitas secara lebih rinci ke dalam sub-subkomponen, atau tingkat yang lebih rendah dan rinci. Diagram Pohon dimulai dengan satu item yang bercabang menjadi dua atau lebih, masing-masing cabang kemudian bercabang lagi menjadi dua atau lebih, dan seterusnya sehingga nampak seperti sebuah pohon dengan banyak batang dan cabang.

Diagram Pohon telah digunakan secara luas  dalam perencanaan, desain, dan pemecahan masalah tugas-tugas yang kompleks. Alat ini biasa digunakan ketika suatu perencanaan dibuat, yakni untuk memecahkan sebuah tugas ke dalam itemitem yang dapat dikelola (manageable) dan ditugaskan (assignable). Penyelidikan suatu masalah juga menggunakan tree diagramuntuk menemukan komponen rinci dari setiap topik masalah yang kompleks. Penggunaan alat ini disarankan jika risiko-risiko dapat diantisipasi tetapi tidak mudah diidentifikasi. Tree diagram lebih baik daripada interrelationship diagram untuk memecah masalah, yang mana masalah tersebut bersifat hirarkis. Oleh karena itu, gunakan alat  ini hanya untuk masalah-masalah yang  dapat dipecahkan secara hirarkis.

Berikut adalah prosedur membuat tree diagram:

1. Buat draft pernyataan sasaran (goal statement)

Buat suatu pernyataan sasaran, proyek, rencana, masalah, atau persoalan lain yang sedang diselidiki. Tulis persoalan tersebut pada bagian paling atas (untuk tree diagram vertikal) atau pada bagian paling kiri (untuk tree diagram horizontal).

2. Buat team yang tepat

Team harus terdiri dari dari orang-orang yang mampu berpikir analitis (bukan kreatif), dan harus memiliki pengetahuan rinci terkait topik sasaran yang sedang dibahas termasuk keahliannya dalam memecah masalah ke tingkat yang lebih rinci. Idealnya ukuran team berkisar antara 4-6 orang.

3. Buat sub-sub sasaran

Lakukan curah pendapat (brainstorming) untuk membuat batang pertama tree diagram. Hal ini berarti membuat rencana aksi (action plan) apa pada tingkat/level pertama agar pernyataan sasaran dapat tercapai. Terus ulangi hal ini pada level-level berikutnya yang lebih rinci sampai mendapatkan elemen fundamental seperti: tindakan spesifik yang dapat ditugaskan, komponen yang tidak dapat dibagi lagi, akar penyebab, atau sampai team mencapai batas keahlian mereka.

Jika kita telah membuat affinity diagram atau interrelationship diagram  sebelumnya, kita  dapat mengambil gagasan-gagasan dari sana. Tulis gagasan atau rencana aksi tersebut di bawah pernyataan pertama (untuk pohon vertikal) atau di sebelah kanan pernyataan pertama (untuk pohon horizontal). Tunjukkan hubungan antara level tersebut dengan garis panah.

4. Lakukan peninjauan

Lakukan pemeriksaan secukupnya sesuai dengan yang dibutuhkan pada setiap level, gunakan pertanyaan-pertanyan seperti berikut:

  • Apakah ada hal-hal yang terlupakan?
  • Apakah item pada setiap level telah cukup menjelaskan level diatasnya?
  • Apakah item pada setiap level memang benar-benar perlu dilakukan untuk level diatasnya?
  • Apakah tugas-tugas yang dihasilkan mengarah pada pencapaian sasaran?

Gambar 1 di bawah ini adalah contoh tree diagram dengan sasaran (goal) meningkatkan rasio ekonomi dan arus kas perusahaan.

tree-diagram.png

Associated Kursus: RE141668RE141668
 
Gambar dari MUHAMMAD FARIH 2215100104
by MUHAMMAD FARIH 2215100104 - Tuesday, 27 March 2018, 17:56
Anyone in the world

MUHAMMAD FARIH - 07111540000104

Sistem adalah kumpulan komponen yang saling berhubungan untuk mencapai tujuan yang sama.

aEitZilkJ5I3EimmfGgn87xQzFofFRB5EbuctHVH

 

Berpikir sistem berarti memahami sebuah sistem dengan cara memeriksa hubungan dan interaksi antara elemen-elemen yang membentuk keseluruhan sistem.

Kenapa harus berpikir sistem?

Karena semua didunia ini saling terhubung satu sama lain.

Bagaimana system thinker berpikir?

Misalkan terdapat masalah : Stop rasa lelah tiap hari

Bukan System Thinker : Memutuskan Memperbanyak kopi untuk meningkatkan energi

System Thinker :

  • Membuat Daftar Faktor-faktor yang mempengaruhi rasa lelah
  • Menggambar Diagram Bagaimana kopi mempengaruhi kelelahan sebagaimana tidur
  • Identifikasi Kopi mengganggu tidur dan membuat makin lelah
  • Memutuskan Berhenti minum kopi

 

Manfaat Berpikir Sistem:

  • Memahami secara Big Picture
  • Melihat Pola/Tren
  • Mengenali bagaimana struktur sistem mempengaruhi perilakunya
  • Mengidentifikasi hubungan sebab-akibat
  • Membuat dan mencoba asumsi
  • Melihat konsekuensi yang akan ditimbulkan
  • Mencari titik yang akan merubah sistem

 

Masalah yang perlu “Berpikir Sistem”

  • Masalah bersifat kompleks
  • Masalah memiliki solusi banyak
  • Solusi masalah tidak dapat dicari di Google 

 

TOOLKIT BERPIKIR SISTEM

- Behavior Over Time

Pertanyaan Kunci :

  • Apa yang berubah?
  • Bagaimana hal itu berubah?
  • Mengapa hal itu berubah?
  • Mengapa perubahan tersebut penting? 

Contoh Permasalahan :

CVZ_J5wl67kak6qI4s9irq1oEds0AYrKMTfC1-gg

  1. Gambar sumbu x dan y
  2. Labeli sumbu x dengan fungsi waktu
  3. Labeli sumbu y dengan faktor-faktor
  4. Skalakan faktor-faktor pada sumbu y
  5. Gambarkan grafiknya
  6. Jawab empat pertanyaan kunci diatas

- Collect and Cluster

Pertanyaan Kunci :

  • Bagaimana kamu mengelompokkan tulisan-tulisan?
  • Bagaimana mengelompokkan tulisan-tulisan membantu dalam mengeksplor masalah?

Contoh permasalahan :

RXVJSoR2qsLWzkYywhosu6EVtPYTo2RtY8aAKgLh

 

  1. Identifikasi permasalahan
  2. Dengan post-its, buatlah daftar semua faktor yang mempengaruhi permasalahan
  3. Tempel post-its di dinding atau papan
  4. Kelompokkan masing-masing faktor yang berhubungan
  5. Cobalah memberi judul untuk masing-masing kelompok
  6. Jawab dua pertanyaan kunci diatas

- Feedback Loops

Pertanyaan Kunci :

Ketika salah satu faktor berubah (meningkat atau menurun), bagaimana dampak terhadap faktor yang lain?

Contoh permasalahan :

PpR-3uus2SebVAfxnMw_nWEmrgEi9t7XnblTCH4P

 

  1. Identifikasi permasalahan
  2. Pilih dua faktor yang menurutmu berhubungan 
  3. Cek dan coba jawab pertanyaan kunci
  4. Jika tidak bisa, coba pilih dua faktor lain dan ulangi langkah ketiga

- Causal Maps

Pertanyaan Kunci :

  • Apa hubungan yang terlihat pada Causal Map?
  • Apakah terdapat feedback loops?
  • Apakah ada sebuah titik utama yang berpengaruh?

Contoh permasalahan :

pp2QlC7OnfJrbJSvTRVr6iz42B4446NdD1oy5MoK

 

  1. Identifikasi permasalahan
  2. Buat daftar semua faktor
  3. Gambar panah untuk setiap faktor yang berhubungan
  4. Jawab tiga pertanyaan kunci
  5. Garis bawahi tiap feedback loops
  6. Tambahkan "-" dan "+" untuk menunjukkan hubungan tiap faktor

 

Sekian dan Terima kasih

sumber: https://cdn-educators.brainpop.com/wp-content/uploads/2014/07/IOP_QDesignPack_SystemsThinking_1.0.pdf

Associated Kursus: RE141668RE141668
[ Mengubah: Tuesday, 27 March 2018, 18:45 ]
 
Anyone in the world

                      Process Interconnection Thinking

 

      Berfikir sistem (system thinking) mulai dikembangkan pada awal abad 20 dan pertama kali diaplikasikan pada bidang Teknik, Ekonomi, dan Ekologi.

     Berfikir sistem bukanlah metode yang harus dijalani secara runut dan baku, namun merupakan sebuah karakter atau perilaku yang mencerminkan pemecahan masalah secara menyeluruh. Manurut Battle-Fisher (2015) dalam bukunya yang berjudul Application of System Thinking to Health Policy and Public Health Ethics menyatakan ada delapan karakteristik berfikir sistem yaitu:

Memandang masalah secara keseluruhan;
Cenderung mendorong pada kemajuan;
Selalu melihat adanya ketergantungan antar elemen;
Lebih memperhatikan jangka panjang;
Fokus pada struktur masalah, bukan saling menyalahkan;
Sebelum membuat keputusan, menyertakan/mempertimbangkan sesuatu yang paradoks (tidak biasa);
Membuat pemetaan dan simulasi untuk memperlihatkan sistem; dan
Menempatkan dirinya sebagai bagian dari sistem
 

     Hester & Kevin (2014) menganalogikan berfikir sistematik dengan otak kiri yang identik dengan logika, urutan, rasional, analitis, obyektif, dan terpisah-pisah. Sedangkan berfikir sistem identik dengan otak kanan dengan karakteristik yang bersifat random, intuisi, holistik, sintesa, subyektif, dan menyeluruh.

     Process Interconnection Thinking merupakan cara untuk mengorientasikan pencarian akar permasalahan ke arah proses dan interkoneksi yang terjadi. Kita sering terjebak untuk hanya memandang output, tapi tidak memperhatikan dari proses. Kita juga sering terjebak dengan tidak melakukan pengelolaan terhadap proses namun berfokus kepada input atau output. Konsep sistem sederhana output-proses-input-umpanbalik sering dilupakan dalam melakukan analisa. Interkoneksi juga memaksa kita untuk tidak hanya berfokus kepada komponen. Komponen yang rusak lebih mudah diganti dibandingkan dengan koneksi yang tidak optimal.

     Quantitative Hypothetical Thinking merupakan dorongan untuk melakukan sebuah hipotesa awal terlebih dahulu secara kuantitatif namun tidak rigid sehingga bisa berubah secara dinamis seiring dengan peningkatan pemahaman kita terhadap permasalahan. Hipotesa dapat dianggap sebuah model pikiran terhadap permasalahan. Sesuatu yang tidak bisa diukur bukan berarti tidak bisa dikuantifikasi. Aspek kuantitatif ini penting untuk tetap diusahakan karena kita jadi memiliki patokan yang lebih baik dalam melakukan analisa maupun perbaikan.

 

Oleh :

Muhammad Haris (07111540000151)

 

Referensi :

https://www.researchgate.net/profile/Ade_Heryana2/publication/321012052_Sistem_teori_pengertian_dan_berfikir_sistem_dalam_bidang_kesehatan/links/5a073270a6fdcc65eab3a7e0/Sistem-teori-pengertian-dan-berfikir-sistem-dalam-bidang-kesehatan.pdf

Associated Kursus: RE141668RE141668
 
Anyone in the world

Systemic Thinking Tool "Rich Picture"

Oleh : Leonard Wihardi

NRP : 07111540000096

Associated Kursus: RE141668RE141668
[ Mengubah: Wednesday, 21 March 2018, 16:40 ]
 
Anyone in the world

Dalam satu sarang, selalu terdapat hanya satu ratu lebah yang tugasnya hanya bertelur untuk menghasilkan lebah-lebah baru. Ratu lebah yang merupakan induk semua lebah mudah dikenali karena ukuran tubuhnya yang paling besar di antara semua lebah. Anggota berikutnya adalah lebah pekerja, sebagian bertugas membuat sarang dan sebagian lainnya mencari makan. Anggota ketiga adalah lebah jantan yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding lebah pekerja betina. Tugas lebah jantan adalah mengawini si ratu lebah.


Lebah-lebah tersebut melaksanakan tugas masing-masing dengan baik sehingga terciptalah suatu kerja sama untuk mencapai tujuan, yaitu hidup bersama dalam kedamaian dan memiliki sarang yang penuh dengan makanan.

Dalam berpikir teknik sistem kita dapat mencontoh kehidupan lebah. Pembagian tugas dalam sistem memudahkan kita untuk mengontrol tiap bagian sistem sehingga bila ada satu error tidak mengubah keseluruhan sistem. Dan seperti halnya lebah, tanpa adanya lebah pekerja yang membuat sarang maupun mencari makan, ratu lebah dan lebah jantan maka sistem tidak akan berjalan dengan output berupa madu dan regenerasi keturunan tidak tercapai.

 

oleh Izzuddin Al Qossam 07111440000151

Associated Kursus: RE141668RE141668
 
Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 ... 42 ()