Site blog

Page: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 ... 49 ()
Picture of Musyafa Arif Huda 07111740000098
by Musyafa Arif Huda 07111740000098 - Tuesday, 11 February 2020, 9:33 AM
Anyone in the world

N2 Analysis

Berpikir sistem adalah pola berpikir dalam sudut pandang sistem. Berpikir adalah salah satu usaha manusia dalam menjawab segala pertanyaan dan permasalahan yang ada di dalam pikiran. Sedangkan sistem adalah gabungan dari beberapa komponen yang bekerja sama sesuai dengan fungsinya untuk mencapai suatu tujuan. Maka dari kedua hal tersebut, berpikir sistem adalah berpikir dengan sudut pandang terhadap permasalahan secara menyeluruh, yang mengarah kepada sumber persoalan itu sendiri, sehingga kita dapat berpikir dengan lebih efektif.

Ketika di dalam suatu sistem terdapat komponen yang bermasalah, maka itu akan mempengaruhi sistem secara keseluruhan. Maka dari itu, berpikir sistem diperlukan agar mendapatkan solusi dalam setiap permasalahan dengan menyeluruh sehingga dapat menurunkan tingkat resiko kegagalan suatu komponen yang dapat berpengaruh terhadap suatu sistem. Selain itu dengan berpikir sistem, kita akan mampu melihat setiap permasalahan secara terstruktur dan dapat menemukan akar permasalahan secara objektif dan akurat.

Terdapat bermacam teknik dalam berpikir sistem, salah satunya adalah teknik berpikir sistem dengan menggunakan NAnalysis atau disebut juga Design Structure Matrix (DSM). NAnalysis adalah sebuah alat yang menggunakan n x n matrix untuk menggambarkan interkoneksi antar elemen dalam suatu sistem. Beberapa potensi kegunaannya adalah sebagai berikut:

  • Dalam desain sistem untuk menilai derajat keterkaitan dan coupling dalam suatu sistem, dengan demikian dapat menentukan kerangka berdasarkan struktur natural dari sistem tersebut.

  • Dalam desain sistem untuk mencatat, sehingga dapat membantu manajemen dan tampilan dalam suatu sistem.

  • Dalam analisis sistem untuk mengidentifikasi dan mendokumentasi interkonektivitas dalam suatu sistem untuk membantu memahami karakteristik suatu hal yang diamati dan memberikan petunjuk untuk suatu perbaikan.

Karakteristik suatu sistem secara mendalam didorong oleh interkonektivitas dari elemen-elemen dari sistem tersebut. NAnalysis dapat membantu mengidentifikasi interkonektivitas natural yang ada di dalam segala sistem dan kemudian memanfaatkan hal tersebut dalam menentukan kerangka desain yang paling cocok ataupun untuk menganalisa dan memahami karakteristik sistem yang telah ada. Gambar di bawah menunjukkan tipe matriks N2 yang memiliki 6 elemen, mulai dari elemen A hingga F. Sebuah elemen bisa melambangkan suatu fungsi ataupun suatu benda. 

XSupIIokILmewbwJiu_BMakL9cJqqFclNyfWNXCJ

Simbol “centang” mengindikasikan bahwa terdapat interkoneksi antar elemen sistem. Dapat didefinisikan juga keluaran/output terdapat dalam baris, dan masukan/input terdapat dalam kolom.

Pada elemen A, B, dan C, terdapat interkoneksi secara keseluruhan dan memiliki hubungan yang erat antara satu dengan lain, sehingga dapat juga dijadikan sebagai subsistem.

Matriks tersebut dapat juga mengindikasikan adanya “elemen kritis”, terlihat pada elemen C, di mana elemen tersebut memiliki input dari segala elemen dan output ke segala elemen, sehingga ketika elemen C gagal, maka akan menyebabkan sistem gagal secara keseluruhan.

Dalam kasus lain, simbol angka dari 0 sampai 9 juga dapat digunakan untuk mengindikasikan kekuatan interkoneksi di antara kedua elemen. Matriks ini pun juga dapat diisi dengan simbol lain seperti M untuk interkoneksi mekanik, E untuk interkoneksi elektronik, dan sebagainya. Tidak ada standar untuk pemilihan simbol pada matriks ini.

N2 Analysis memiliki beberapa kegunaan dalam Teknik Sistem, antara lain:

  • Ketika mendesain sistem:

    • Untuk menganalisa dan membuka struktur natural problematika sistem yang tersembunyi

    • Untuk menganalisa potensi dari sistem.

  • Ketika menganalisa sistem yang sudah ada:

    • Untuk membantu memahami karakteristik dan mengidentifikasi kelemahan sistem.

    • Untuk mencatat interface sistem dalam format yang simpel dan mudah dibaca.

    • Untuk membantu dalam mengatur antarmuka sebuah sistem selama sistem tersebut hidup.

N2 Analysis dapat digunakan oleh perseorangan maupun kelompok. Ketika mengembangkan sistem tingkat tinggi, N2 Analysis dapat memberi manfaat pada suatu kelompok, karena dapat dengan mudah dianalisa dan dievaluasi sehingga dapat menghasilkan banyak alternatif dalam pengembangan sistem.

ug0kEywkNA5bQSJ3sjvzdK2atQFtePsKuRQ-Ea5J

 

Referensi: https://www.burgehugheswalsh.co.uk/Uploaded/1/Documents/N2-Analysis-Tool-Draft-2.pdf

 

Associated Course: RE141668RE141668
[ Modified: Tuesday, 11 February 2020, 9:36 AM ]
 
Picture of BRILIANT RIZQI 07111740000044
by BRILIANT RIZQI 07111740000044 - Tuesday, 11 February 2020, 8:42 AM
Anyone in the world

Functional Failure Mode and Effects Analysis (FFMEA) adalah alat yang memungkinkan tim secara sistematis untuk mengidentifikasi, mendokumentasikan, dan memprioritaskan mode kegagalan fungsional potensial, efek dan penyebabnya. Metode ini bertujuan untuk mengevaluasi desain sistem dengan mempertimbangkan bermacam-macam model kegagalan dari sistem yang terdiri dari komponen komponen dan menganalisis pengaruh-pengaruhnya terhadap keandalan sistem tersebut (Irianto, 2010). FFMEA sebaiknya digunakan sebelum desain sistem berjalan atau bahkan dengan sistem lain. Namun, dalam hal ini membutuhkan pengetahuan tentang cara kerja sistem secara menyuluruh dan biasanya dengan ada analisis dari berbagai sudut pandang atau pembuatan model tersebut.

FFMEA adalah alat berbasis tim yang secara fundamental bergantung pada pengalaman dan keahlian dalam tim itu. Penting untuk menekankan bahwa kualitas hasil dari penggunaan alat tergantung pada tim. Oleh karena itu, pemilihan tim sangat penting. Tim benar-benar perlu terdiri dari anggota yang memiliki pengetahuan yang baik tentang:

-          desain yang ada dan sebelumnya

-          profil penggunaan yang diharapkan

-          siklus sistem serupa

Ada manfaat besar dalam hal kualitas keluaran dan efisiensi waktu jika sesi FFMEA difasilitasi oleh ahlinya. Sangat mudah bagi tim mendapatkan "hambatan" ketika semakin detail atau menyisihkan permasalahan untuk membahas solusi yang lain.

Langkah 1 : Identifikasi dan buat daftar fungsi sistem

Kita perlu mengetahui desain cara kerja sistem dan banyak alat serta metode yang dapat digunakan seperti Viewpoint Analysis dan Functional Modeling. Semakin detail desain cara kerja sistem yang akan dikelola maka dapat timbul banyak permasalahan. Kejelasan dalam tahap ini harus dapat dipahami oleh seluruh tim sehingga memiliki pandagan yang sama tentang apa yang akan dilakukan oleh sistem.

Langkah 2 : Identifikasi potensi kegagalan

Segi fungsi dari FMEA memeriksa dan bagaimana bisa gagal. Kegagalan perlu diekspresikan dalam hal ini. Pendekatan sederhana berupa kata kerja fungsi sebagai dasar untuk deskripsi kegagalan seperti lebih, kurang, tidak, berselang, sengaja atau tidak disengaja.

Langkah 3 : Identifikasi setiap dampak dari kegagalan

Dampak dari kegagalan adalah apa yang mungkin dialami pengguna sistem sebagai akibat dari kegagalan. Masing-masing kemungkinan dapat dicatat untuk diperhitungkan dan beberapa kegagalan dapat memberikan dampak yang sama.

Langkah 4 : Identifikasi setiap penyebab kegagalan

Penyebab dari kegagalan adalah alasan dasar metode ini.  Dalam berbagai situasi memungkinkan ada lebih dari satu penyebab dalam satu kegagalan. Ketika menentukan penyebab perlu untuk mengasumsikan bahwa sitem direalisasikan dengan benar.

Langkah 5 : Identifikasi metode deteksi kegagalan saat ini

Deteksi berhubungan dengan apa yang dilakukan oleh tim terakhil kali, dapat mengasumsi bahwa telah merancang sistem yang sama sebelumnya. Tujuan kolom deteksi adalah untuk mengidentifikasi dan merekam metode yang saat ini digunakan. Jika tidak ada maka tulis “tidak ada”.

Langkah 6 : Menentukan skala peringkat

-          Probabiltas terjadinya kegagalan. Menerapkan skala dari 1 hingga 10, dimana 1 adalah terkecil atau jarang dan 10 adalah terbesar atau sangat mungkin terjadi.

-          Tingkat keparahan efek dari kegagalan. Menerapkan skala dari 1 hingga 10, dimana 1 adalah tidak parah atau mungkin tidak menyadari kegagalan dan 10 adalah efek yang sangat serius. Pengkalibrasian efek secara berkala untuk analaisis tertentu sangat disarankan.

-          Probabilitas deteksi. Menerapkan skala dari 1 hingga 10, dimana 1 adalah deteksi sudah dilakukan dan terdapat metode yang mendukung dan 10 adalah tidak adanya cara mendeteksi sehingga dapat mengakibatkan kegagalan yang sangat serius.

Langkah 7 : Menentukan RPN

Risk Priority Number (RPN) atau Criticality Index (CI) dihitung dengan perkalian peringkat kejadian, keparahan dan deteksi.

RPN = SOD

Semakin besar angkanya, semakin serius atau semakin kritis kegagalan. Poin yang perlu diperhatikan adalah bahwa keseriusan kegagalan tidak hanya bergantung pada kemungkinan terjadinya. Setelah semua indeks kekritisan telah dihitung, ringkasan dari yang paling kritis diekstraksi untuk menyoroti area-area di mana tindakan prioritas harus diarahkan.

Langkah 8 : Mempertimbangkan RPN tinggi untuk fungsi baru atau desain ide

Terdapat dua poin baik disini :

-          Hapus kemungkinan kegagalan.

-          Menyediakan metode untuk mendeteksi kegagalan lebih awal

Pada tahap ini diharapkan adanya solusi ketika rancangan awal memiliki masalah-masalah. Semua yang dipersiapkan adalah untuk berhasil maka disini sebisa mungkin menghapus kemungkinan kegagalan, jika terbukti tidak mungkin dilakukan maka dapat melakukan deteksi sebelum kegagalan tersebut.

 

Contoh%20FFMEA.jpg

 

 

Referensi :

- https://www.burgehugheswalsh.co.uk/Uploaded/1/Documents/FFMEA-Tool-v1-2.pdf

- Marcelly, W. W., Sulastri., & Siti, H. (2019). Penerapan Metode Failure Mode And Effect Analysis (Fmea) Dalam Mengidentifikasi Masalah Kerusakan Produk Pakan Ayam Pada Pt. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk Unit Lampung. Spektrum Industri, Vol. 17, No. 1, 1 – 91.

Associated Course: RE141668RE141668
 
Anyone in the world

 

 

 

 

 

 

ssm.jpg

 

Soft systems methodology (SSM) merupakan sebuah pendekatan untuk memecahkan situasi masalah kompleks yang tidak terstruktur berdasarkan analisis holistic dan berpikir system. SSM juga merupakan sebuah metodologi partisipatori yang dapat membantu para stakeholders yang berbeda untuk mengerti perspektif masing-masing stakeholders. Fokus SSM adalah untuk menciptakan system aktivitas dan hubungan manusia dalam sebuah organisasi atau grup dalam rangka mencapai tujuan bersama.

Komponen Dari Rich Picture :

ØJudul
ØSketsa
ØKata kunci
ØGrafik
ØKartun
ØSimbol
 

Contoh Rich Picture

richPicture.gif

 

Aturan: SSM Rich Picture

Gunakan simbol atau gambar untuk merepresentasikan situasi.

Minimalkan penggunaan kata-kata.

Tidak menerapkan sebuah struktur.

Hubungkan setiap gambar dengan sebab dan akibat

Hindari penggunaansistem bahasa pada system Marketing, produksi, QC.

 

Kapan kita dapat mengimplementasikan Rich Picture

ØTidak dapat menentukan solusi dan kesempatan dengan jelas

ØMelibatkan banyak departemen yang memiliki fungsi beragam

ØMelibabatkan peran manusia dalam jumlah yang cukup signifikan.

ØMelibatkan banyak departemen

Associated Course: RE141668RE141668
 
Anyone in the world

Tool Box Berpikir Sistem : Spray Diagram

Peter Stephen Mairuma 07111740000141 

Spray diagram sangat sering sekali dipakai sebagai alat untuk berpikir, dengan fleksibiltas penggunaannya dalam brainstorming ide, pengambilan catatan, dan untuk membangun sebuah struktur argument. Dengan mengambil konsep spray dimana dari suatu lubang menyemprotkan cairan secara merata dan banyak, seperti itulah juga spray diagram, dimana dari suatu permasalahan akan bisa didapatkan banyak sekali kemungkinan solusi.

 

Dari sekian banyak solusi yang didapat harus kita pikirkan penyelesaian yang tepat menggunakan akal sehat. Hal ini yang bisa kita sebut dengan divergent thinking. Divergent thinking lebih mengandalkan penggunaan otak kanan, yang berpikir secara kreatif dan juga logikal dari reflek sensor pemikiran kita.

 

Setelah dilakukan divergent thinking, dilakukan convergent thinking yang menghandalkan otak kiri sebagai penyusun, pengkategori mana akal dari divergent thinking akan di seleksi sesuai dengan kondisi logikal dari permasalahan tersebut dan juga akal sehat.

 

 

divcon%20systh%20copy.jpg 

Spray diagram sendiri bisa menghasilkan solusi dalam suatu permasalahan, atau bisa saja hanya menjadi proses dari suatu pemikiran sistem.

 

Meskipun jika dilihat spray diagram bentuknya mirip seperti mind map, tetapi spray diagram beda dengan mind map. Mulai dari cara pemikirannya dan juga bentuknya. Spray diagram jauh lebih sederhana, hanya dengan memanfaatkan garis dan juga kata-kata saja.

 

ex%20spray%20diag%20copy.jpg 

                  Gambar diatas merupakan salah satu contoh dari spray diagram. Dimana bisa dilihat apa saja dampak dampak dari suatu permasalahan. Contoh pada gambar permasalahannya yaitu meningkatnya harga minyak tanah. Bisa dilihat banyak sekali hal – hal yang terjadi, baik dampak positif atau dampak negative, dan juga dampak tersebut berhubungan satu sama lain.

 

                  Spray diagram bisa dibilang cukup berantakan ketika kita menyusunnya, tetapi di sisi lain, semakin banyak ide yang kita pikirkan, maka akan lebih banyak hubungan masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan sedikit solusi.

 

Associated Course: RE141668RE141668
 
Picture of Raditya Pratama Putra
by Raditya Pratama Putra - Tuesday, 11 February 2020, 12:27 AM
Anyone in the world

Helicopter Views

Seiring dengan berkembangnya zaman, masalah yang dihadapi akan semakin banyak dan juga sulit, ditambah lagi dengan fakta bahwa antar persoalan bisa saling terikat satu sama lain dalam satu jalinan permasalahan yang kompleks. Permasalahan-permasalahan ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan satu bidang keahlian saja, namun kita juga harus mengubah secara fundamental tentang bagaimana cara kita memandang permasalahan tersebut.

System Thinking atau cara berpikir sistem adalah salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memandang persoalan secara lebih holistik (Nggili, 2016). Holistik berasal dari holism, yang merupakan suatu paham bahwa suatu sistem tidak bisa dipandang dari bagian-bagiannya atau sub sistemnya saja. Dengan berpikir sistem, kita sebagai manusia bisa memandang persoalan-persoalan yang ada dengan lebih menyeluruh, sehingga dalam pengambilan sebuah keputusan dan pilihan aksi bisa dibuat lebih terarah kepada sumber-sumber persoalan yang akan mengubah sistem secara efektif. Cara berpikir sistem tidak menguraikan masalah kompleks menjadi lebih sederhana, tetapi melihat dari jarak yang lebih jauh sehingga keterkaitan yang kompleks di antara sub sistem tetap terlihat. Salah satu tools yang dapat digunakan untuk berpikir sistem adalah Helicopter View.

 helicopter%20view.PNG

Gambar 1. Helicopter View
(Sumber : Nggili, 2016)

Sesuai dengan namanya, helicopter view merupakan salah satu pendekatan dalam cara memandang suatu permasalahan dengan cara melihat dari atas, seolah-olah melihat dari sudut pandang helikopter yang sedang terbang. Ketinggian terbang dari helikopter pun bisa bervariasi, mulai dari ketinggian yang rendah hingga tinggi. Semakin tinggi helikopter terbang, semakin besar pula jangkauan pandangnya ke bawah. Dengan melihat dari tempat yang lebih tinggi, maka sistem akan jelas terpampang secara holistik. Untuk itu, gambaran umum dari sebuah lingkungan akan mudah dipetakan. Jika turun lebih rendah lagi, maka akan tampak lebih jelas variabel-variabel independent dan dependent. Penggunaan helicopter view ini menyadarkan bahwa dalam suatu lingkungan, terdapat berbagai tingkatan sekaligus dari yang terkecil hingga terabstrak (mikro – makro – meso). Ketika ada sebuah permasalahan, solusi yang mungkin dicari mungkin hanya akan terbatas pada tingkatan mikro saja, namun solusi tersebut tetap tidak bisa menyelesaikan permasalahannya. Hal ini terjadi karena masih ada kemungkinan bahwa akar permasalahannya bukan ada pada tingkatan mikro, namun bisa pada tingkatan makro nya. Karena hal ini, helicopter view dapat digunakan untuk melihat secara holistik lingkungan yang bergerak cepat (Edson, 2008). Apabila kita bisa memetakan bagian-bagian dari suatu sistem, maka cara pandang kita terhadap suatu permasalahan bisa lebih komperhensif, sehingga pengambilan sebuah keputusan bisa lebih efektif.

 

Pustaka :

Edson, R., (2008). Systems Thinking. Applied. A Primer. AsysT Institute

Nggili, R. A., (2016). Pendekaran System Thinking dalam Kepemimpinan Transformasional.      Jurnal Humaniora Yayasan Bina Darma, III, 169-183.

Associated Course: RE141668RE141668
 
Anyone in the world

FFMEA

Functional Failure Mode and Effects Analysis (FFMEA) adalah alat yang memungkinkan tim secara sistematis untuk mengidentifikasi, mendokumentasikan, dan memprioritaskan mode kegagalan fungsional potensial, efek dan penyebabnya. Metode ini bertujuan untuk mengevaluasi desain sistem dengan mempertimbangkan bermacam-macam model kegagalan dari sistem yang terdiri dari komponen komponen dan menganalisis pengaruh-pengaruhnya terhadap keandalan sistem tersebut (Irianto, 2010). FFMEA sebaiknya digunakan sebelum desain sistem berjalan atau bahkan dengan sistem lain. Namun, dalam hal ini membutuhkan pengetahuan tentang cara kerja sistem secara menyuluruh dan biasanya dengan ada analisis dari berbagai sudut pandang atau pembuatan model tersebut.

FFMEA adalah alat berbasis tim yang secara fundamental bergantung pada pengalaman dan keahlian dalam tim itu. Penting untuk menekankan bahwa kualitas hasil dari penggunaan alat tergantung pada tim. Oleh karena itu, pemilihan tim sangat penting. Tim benar-benar perlu terdiri dari anggota yang memiliki pengetahuan yang baik tentang:

-          desain yang ada dan sebelumnya

-          profil penggunaan yang diharapkan

-          siklus sistem serupa

Ada manfaat besar dalam hal kualitas keluaran dan efisiensi waktu jika sesi FFMEA difasilitasi oleh ahlinya. Sangat mudah bagi tim mendapatkan "hambatan" ketika semakin detail atau menyisihkan permasalahan untuk membahas solusi yang lain.

Langkah 1 : Identifikasi dan buat daftar fungsi sistem

Kita perlu mengetahui desain cara kerja sistem dan banyak alat serta metode yang dapat digunakan seperti Viewpoint Analysis dan Functional Modeling. Semakin detail desain cara kerja sistem yang akan dikelola maka dapat timbul banyak permasalahan. Kejelasan dalam tahap ini harus dapat dipahami oleh seluruh tim sehingga memiliki pandagan yang sama tentang apa yang akan dilakukan oleh sistem.

Langkah 2 : Identifikasi potensi kegagalan

Segi fungsi dari FMEA memeriksa dan bagaimana bisa gagal. Kegagalan perlu diekspresikan dalam hal ini. Pendekatan sederhana berupa kata kerja fungsi sebagai dasar untuk deskripsi kegagalan seperti lebih, kurang, tidak, berselang, sengaja atau tidak disengaja.

Langkah 3 : Identifikasi setiap dampak dari kegagalan

Dampak dari kegagalan adalah apa yang mungkin dialami pengguna sistem sebagai akibat dari kegagalan. Masing-masing kemungkinan dapat dicatat untuk diperhitungkan dan beberapa kegagalan dapat memberikan dampak yang sama.

Langkah 4 : Identifikasi setiap penyebab kegagalan

Penyebab dari kegagalan adalah alasan dasar metode ini.  Dalam berbagai situasi memungkinkan ada lebih dari satu penyebab dalam satu kegagalan. Ketika menentukan penyebab perlu untuk mengasumsikan bahwa sitem direalisasikan dengan benar.

Langkah 5 : Identifikasi metode deteksi kegagalan saat ini

Deteksi berhubungan dengan apa yang dilakukan oleh tim terakhil kali, dapat mengasumsi bahwa telah merancang sistem yang sama sebelumnya. Tujuan kolom deteksi adalah untuk mengidentifikasi dan merekam metode yang saat ini digunakan. Jika tidak ada maka tulis “tidak ada”.

Langkah 6 : Menentukan skala peringkat

-          Probabiltas terjadinya kegagalan. Menerapkan skala dari 1 hingga 10, dimana 1 adalah terkecil atau jarang dan 10 adalah terbesar atau sangat mungkin terjadi.

-          Tingkat keparahan efek dari kegagalan. Menerapkan skala dari 1 hingga 10, dimana 1 adalah tidak parah atau mungkin tidak menyadari kegagalan dan 10 adalah efek yang sangat serius. Pengkalibrasian efek secara berkala untuk analaisis tertentu sangat disarankan.

-          Probabilitas deteksi. Menerapkan skala dari 1 hingga 10, dimana 1 adalah deteksi sudah dilakukan dan terdapat metode yang mendukung dan 10 adalah tidak adanya cara mendeteksi sehingga dapat mengakibatkan kegagalan yang sangat serius.

Langkah 7 : Menentukan RPN

Risk Priority Number (RPN) atau Criticality Index (CI) dihitung dengan perkalian peringkat kejadian, keparahan dan deteksi.

RPN = SOD

Semakin besar angkanya, semakin serius atau semakin kritis kegagalan. Poin yang perlu diperhatikan adalah bahwa keseriusan kegagalan tidak hanya bergantung pada kemungkinan terjadinya. Setelah semua indeks kekritisan telah dihitung, ringkasan dari yang paling kritis diekstraksi untuk menyoroti area-area di mana tindakan prioritas harus diarahkan.

Langkah 8 : Mempertimbangkan RPN tinggi untuk fungsi baru atau desain ide

Terdapat dua poin baik disini :

-          Hapus kemungkinan kegagalan.

-          Menyediakan metode untuk mendeteksi kegagalan lebih awal

Pada tahap ini diharapkan adanya solusi ketika rancangan awal memiliki masalah-masalah. Semua yang dipersiapkan adalah untuk berhasil maka disini sebisa mungkin menghapus kemungkinan kegagalan, jika terbukti tidak mungkin dilakukan maka dapat melakukan deteksi sebelum kegagalan tersebut.

 Contoh%20FFMEA.jpg

 

Referensi :

- https://www.burgehugheswalsh.co.uk/Uploaded/1/Documents/FFMEA-Tool-v1-2.pdf

- Marcelly, W. W., Sulastri., & Siti, H. (2019). Penerapan Metode Failure Mode And Effect Analysis (Fmea) Dalam Mengidentifikasi Masalah Kerusakan Produk Pakan Ayam Pada Pt. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk Unit Lampung. Spektrum Industri, Vol. 17, No. 1, 1 – 91.

-

 
Anyone in the world

Affinity Diagram

Apa itu Affinity Diagram

Affinity Diagram adalah salah satu alat bantu berpikir system sederhana yang memungkinkan sebuah kelompok / grup untuk:

  • Menghasilkan ide-ide tentang permasalahan yang dimiliki
  • Menyusun berbagai macam ide, opini, serta isu-isu menjadi suatu kelompok yang bermakna
  • Mengomunikasikan ide tersebut dengan representasi yang sederhana tetapi jelas

Kenapa harus Affinity Diagram

Ketika diberikan suatu permasalahan dengan tujuan untuk menemukan semua solusi tepat yang memungkinkan untuk digunakan, kita cenderung melompat ke solusi permasalahan karena output yang dapat terlihat. Cara menemukan solusi yang seperti ini kurang baik digunakan untuk jangka panjang sehingga kurang efektif untuk digunakan.

Pemikiran system dibutuhkan untuk memerhatikan kondisi suatu permasalahan secara menyeluruh. Hal ini dapat di capai dengan

  1. Menghasilan informasi mengenai permasalahan terkait
  2. Menyusun informasi yang didapat

Kedua aktifitas diatas memerlukan kemampuan mental yang berbeda dan sering di sebut sebagai Divergent Thinking dan Convergent Thinking.

Divergent Thinking: menghasilkan informasi dan ide-ide tentang permasalahan terkait dengan menggunakan kreativitas “otak kanan”.

Convergent Thinking: menyusun dan mengelompokkan ide-ide ataupun informasi yang didapat dengan pemikiran “otak kiri” yang sangat logical. Sering digunakan untuk menyeleksi ide-ide yang ada.

 

 

 

 

Dimana dan Kapan Affinity Diagram dapat digunakan

Affinity Diagram adalah suatu alternative untuk brainstormingyang sangat berguna ketika:

  • Adanya permasalahan yang terlalu besar atau kompleks untuk diselesaikan dengan cara brainstorming
  • Adanya keperluan untuk mendapatkan kesepakatan antar individu
  • Adanya keperluan untuk mengomunikasikan hasil yang didapat ke orang lain
  • Kemungkinan akan ada masalah di sekitar dinamika grup dimana sangat tidak mungkin ataupun diinginkan untuk memiliki grup non-hierarkis

Siapa yang memerlukan

Affinity Diagram dapat dilakukan oleh individu atau lebih baik jika berkelompok/grup/tim. Hal ini karena Affinity Diagram adalah alat berpikir yang kreatif yang tujuannya adalah untuk menghasilkan informasi atau ide-ide tentang suatu permasalahan. Sehingga penting untuk sebuah tim terdiri dari anggota yang mengetahui permasalahan tersebut. Tetapi jika ada anggota yang memiliki pengalaman terbatas mengenai permasalahan tersebut juga tidak masalah. Hal ini dapat membantu memastikan informasi dasar ataupun basic tidak terlupakan; expert cenderung mengabaikan masalah yang dianggap sederhana.

Bagaimana melakukannya

Terdapat dua pendekatan dasar untuk melakukan Affinity Diagram yakni: classic approach yang dapat dilakukan tanpa fasilitator, dan facilitated approach yang harus dilakukan dengan bantuan fasilitator

The Classic Affinity Diagram Approach

Tahap Divergent Thinking

  • Tim menggunakan catatan tempel (sticky notes) untuk mencatat pandangan tiap individu ataupun ide-ide permasalahan tersebut. Sebaiknya mengalokasikan durasi waktunya (umumnya 15 menit)
  • Setiap anggota tim mencatat ide-ide pada sticky notes satu ide per sticky notes
  • Sticky notes kemudian di tempel pada dinding ataupun pin board.

Hal ini membuat setiap anggota tim memikirkan dan menangkap ide mereka sendiri.

Hindari permasalahan sekitar grup hierarki ataupun grup yang terdapat anggota yang pemalu ataupun dominant. Hal ini membuat setiap anggota tim memberikan kontribusi yang lebih seimbang tetapi akan terjadi duplikasi ide.

Tahap Convergent Thinking

  • Dalam ketenangan, tim menyusun dan mengelompokkan sticky notes ke dalam kelompok-kelompok yang terhubung tematis atau memiliki persamaan. Ketenangan dibutuhkan untuk menghindari individu yang memaksakan struktur menjadi suatu hasil.
  1. Setiap orang boleh memindahkan sticky notes ke suatu kelompok yang dirasa memiliki persamaan.
  2. Kelompok sticky notes yang terbentuk masih dapat dipecahkan dan membentuk suatu kelompok yang baru

 

  • Ketika tim sudah menuju ke sebuah kesepakatan:
  1. Berikan setiap kelompok sebuah header
  2. Kelompok yang besar sebaiknya di bagi lagi menjadi kelompok yang lebih kecil yang juga diberi header. Disarankan sebuah kelompok memiliki 5 sampai 7 sticky notes.

 

  • Tahap terakhir yaitu merekap ulang Affinity Diagram:
    • Menyatukan duplikat. Ada dua kemungkinan:
  1. Kata-kata yang sama pada dua atau lebih sticky notes.
  2. Kata kata mirip atau mencatat informasi yang sama.
  • Keuntungan mengelompokkan sticky notes ialah memudahkan untuk direkap ulang untuk mengidentifikasi ide yang belum ada. Setiap kelompok harus diperiksa agar mereka merumuskan solusi yang bersangkutan.
  • Tinjau pengelompokkan yang lain

 

The Facilitated Affinity Diagram Approach

Dengan adanya fasilitator yang berpengalaman dapat meningkatkan kualitas menyeluruh dari output dan waktu yang dibutuhkan untuk mencapainya.

Tahap Divergent Thinking

  • Fasilitator memulai mendefinisikan permasalahan atau situasi yang sudah ditinjau sebelum menyuruh tim untuk menghasilkan ide-ide ataupun informasi. Fasilitator mencatat ide-ide ataupun informasi lisan yang dihasilkan tiap individu pada sticky notes. Fasilitator yang baik dapat mengatur ide-ide yang dikeluarkan tiap individu agar tidak ada individu yang mendominasi. Alokasi waktu yang umum adalah 20 hingga 30 menit.
  • Informasi pada sticky notes di tempel pada dinding ataupun pin board.

Tahap Convergent Thinking

  • Tahap ini dilakukan sebagaimana classic approach dilakukan.
  • Individu yang mendominasi tim. Pada tim hierarki, gunakan fasilitator untuk mengatur jalannya proses pemikiran ide.
  • Kesulitan dalam menemukan persamaan yang disepakati. Jika tidak dapat kesepakatan setelah 15 menit berdiskusi, tinjau penggunaan 2 Affinity Diagram.
  • Jangan habiskan waktu untuk:
    • Mengecek duplikat
    • Mencari elemen tambahan

Batasan Affinity Diagram

Jelaskan alokasi waktu pada awal sesi dan alokasi waktu yang cukup untuk mengecek hal diatas. Alokasi waktu yang umum adalah sebagai berikut:

  • Tahap Divergent       15 menit
  • Tahap Converget

-        Pengelompokan ide                       15 menit

-        Mengecek duplikasi                       10 menit

-        Mencari elemen tambahan          10 menit

  • Hasil Affinity Diagram yang tidak intuitif untuk pembaca baru. Affinity Diagram yang sudah selesai tidak dapat langsung dimengerti oleh pihak ketiga yang tidak pernah melihat Affinity Diagram sebelumnya. Alternatifnya adalah dengan mengonversikan menjadi Tree Diagram.

affinity diagram

Associated Course: RE141668RE141668
 
Picture of ADE OKTAVIANUS KURNIAWAN Ade
by ADE OKTAVIANUS KURNIAWAN Ade - Monday, 10 February 2020, 2:28 PM
Anyone in the world

Tree Diagram atau yang biasa disebut juga dengan diagram pohon merupakan salah satu alat yang digunakan untuk meng-organisir ide yang jumlahnya cukup besar, opini dan permasalahan menjadi suatu struktur yang dapat mudah dikomunikasikan tetapi memiliki representasi yang cukup kuat dengan topik yang ada. Diagram pohon merupakan alat yang cukup mudah untuk merepresentasikan informasi dan ide dalam sebuah bentuk yang intuitif.

                Dalam penggambaran diagram pohon, dibagi menjadi dua. Yaitu, penggambaran horizontal dan penggambaran vertikal.

 

 

Sepeda.png

Figure%202.png

Pada gambar 1, merupakan representasi dari diagram pohon dengan penggambaran horizontal dan membahas tentang pembedahan dari sepeda. Lalu, pada gambar 2, merupakan representasi dari diagram pohon dengan penggambaran vertikal.

                Diagram pohon sangat berguna dalam “System Thinking” karena penggambarannya yang cukup umum untuk sebagian besar orang, tetapi memberikan informasi yang cukup jelas. Konsep dasarnya, yaitu menggambarkan dari suatu informasi yang “besar” atau “general”, lalu dipecah menjadi informasi yang lebih kecil atau men-detail. Pada dasarnya penggambaran diagram pohon yang umum dibagi menjadi tiga, yaitu penggambaran berbentuk pohon, “nests”, dan list.

table%201.png

Dan dalam representasinya, pada dasarnya diagram pohon memiliki dua dasar hierarki, yaitu yang pertama adalah struktural, dimana dalam hierarki struktural, informasi dalam diagram pohon dibagi dari bagian konstituen dalam urutan berdasarkan beberapa kriteria yang sudah diberikan, contohnya umur atau warna, ukuran, dan bentuk. Yang kedua adalah “functional”, dimana dalam hierarki “functional”, informasi dalam diagram pohon diurutkan berdasarkan kepentingan hubungannya. Contoh dari diagram pohon “functional hierarchy”, yaitu.

cook.png

Diagram pohon biasanya digunakan untuk untuk meng-organisir dan me-manage tujuan, tugas atau aktivitas, benda atau produk, kebutuhan atau syarat, dan permasalahan.

[ Modified: Tuesday, 11 February 2020, 7:12 AM ]
 
Anyone in the world

Morphological box

Morphological box merupakan sebuah metode kreatif untuk menciptakan solusi dari permasalahan kompleks. Metodologi ini memecah permasalahan kompleks menjadi factor factor yang membentuk masalah kompleks tersebut lalu menemukan solusi untuk factor factor tersebut satu-per-satu. Dari solusi setiap factor ini diharapkan sebuah solusi konkrit untuk masalah kompleks tersebut dapat dibentuk. Metode ini digunakan ketika terdapat suatu masalah yang terlalu besar untuk di-brainstorm.

 

Metode ini memerlukan banyak solusi untuk setiap factor masalah oleh karena itu metode ini tidak disarankan untuk kerja individual. Metode ini lebih baik digunakan ketika berada di dalam tim yang memiliki area of expertise yang berbeda.

 

Metode untuk melakukan metode ini adalah sebagai berikut 

diagram.PNG

 

Step 1 : men-brainstorm atribut dari system (produk, proses atau jasa). Atribut ini dapat berupa bagian, fungsi, sifat, kualitas, atau desain dari system.

Step 2 : Membuat morphological  box dengan atribut system sebagai hedaer kolom

Step 3 : Brainstorm setiap kemungkinan variasi dari atribut system sebanyak mungkin sesuai kebutuhan. Apabila variasi dari atribut susah untuk ditemukan  lebih baik untuk mengganti atribut tersebut. Apabila terdapat 2 atribut yang memiliki variasi mirip lebih baik di gabungkan.

Step 4 : pilih satu variasi dari setiap kolom untuk membuat satu konsep system. Hal ini dapat dilakukan secara sistematis atau random untuk menciptakan kombinasi yang menarik.

Step 5 : langkah ini memilki tujuan untuk mengeliminasi konsep yang tidak sesuai sehingga tersisa satu system yang praktis namun inovatif.

Kekurangan dari metode morphological box:

  1. Atribut yang kurang cocok untuk solusi system. Atribut merupakan salah satu komponen penting dalam membuat sebuah morphological box karena setiap atribut akan berperan dalam menciptakan solusi final. Setiab atribut harus relevan dan jelas. Atribut ini juga harus memenuhi keinginan klien.
  2. Metode morphological box sering kali berhasil namun kebanyakan solusi hasil dari morphological box tidak inovatif karena kombinasi solusi yang paling ekstrim seringkali dianggap tidak memungkinkan
  3. Metode ini lebih efektif jika diaplikasikan dalam sebuah tim

Referensi:

https://www.burgehugheswalsh.co.uk/Uploaded/1/Documents/Morphological-Box-Tool-v2.pdf

 

 

Associated Course: RE141668RE141668
[ Modified: Sunday, 9 February 2020, 8:00 PM ]
 
Anyone in the world

INFLUENCE DIAGRAM

 

Influence Diagram merupakan suatu alat untuk mengidentifikasi hubungan penting atau pengaruh yang timbul antara elemen-elemen dalam suatu sistem. Identifikasi yang dimaksud merupakan hal yang krusial dikarenakan karakteristik ataupun perilaku dari suatu sistem dipengaruhi oleh elemen-elemen dari sistem tersebut. Dengan mengetahui relasi antar elemen sistemnya, kita juga dapat memodifikasi perilaku dari sistem tersebut. Influence diagram dapat digunakan untuk mengindetifikasi elemen yang terdapat pada sistem perangkat lunak dengan perangkat keras, ataupun pada sistem aktivitas manusia. Influence diagram dapat dibentuk oleh individual atau tim. Perlu diketahui, bahwa kualitas dari diagram yang dibentuk akan dipengaruhi oleh pengalaman individual ataupun tim itu sendiri.

 

Prosedur membentuk Influence Diagram terdiri dari 4 langkah, yaitu :

1. Menemukan Elemen

Melakukan brainstorming untuk memperoleh elemen-elemen yang berpotensi menjadi bagian dari sistem yang kita ingin identifikasi. Elemen tersebut bisa saja berupa orang, proses, perangkat, bangunan, tempat, atau apapun itu.

2. Pengelompokan Elemen

Mengindentifikasi elemen-elemen yang memiliki aspek ataupun fitur yang mirip atau identik, lalu membentuknya menjadi kelompok-kelompok dengan nama yang kolektif, sehingga membentuk system map.

3. Menentukan Pengaruh antar kelompok

Melakukan identifikasi pengaruh dari setiap kelompok dengan menggunakan pendekatan yang mempertimbangkan setiap elemen yang terdapat pada sistem dan menentukan apakah memiliki relasi alami dengan kelompok yang lain. Relasi tersebut dapat berupa entitas fisik, informasi, aliran kontrol, ataupun pengaruh yang bersifat kurang nyata. Setelah itu catat seluruh relasi tersebut pada system map untuk membentuk Influence Diagram :

      • Cobalah untuk menghindari perpotongan antar garis dari setiap hubungan
      • Pastikan bahwa diagram yang dibentuk mudah diikuti
      • Tunjukkan arah dari setiap pengaruh.
      • Berilah nama untuk setiap pengaruh.

4. Meninjau ulang Influence Diagram

Tinjau Influence Diagram yang telah dibentuk untuk memahami perilaku sistem atau perilaku potensial (perilaku yang bisa dimodifikasi). Pada langkah ini, kita perlu mempertimbangkan komponen-komponen yang berada dalam kelompok-kelompok pada Influence Diagram dan menentukan apakah akan dilakukan perubahan pada kelompok-kelompok tersebut berdasarkan hubungan timbal balik yang ada didalamnya.

 

Saat membuat Influence Diagram, berlaku beberapa ketentuan :

  • Memiliki judul yang mendefenisikan Influence Diagram berdasarkan sistem yang diidentifikasi
  • Anak panah yang menghubungkan antar komponen diberi label dengan nama pengaruh.
  • Jangan menggunakan anak panah berkepala dua untuk mendefenisikan relasi. Gunakanlah dua anak panah secara terpisah.
  • Anah panah menunjukkan kapasitas untuk mempengaruhi, bukan urutan waktu.
  • Sebuah Influence Diagram merupakan potret dari suatu sistem.

 

Berikut adalah daftar yang merepresentasikan suatu set kriteria yang berguna dalam membentuk sebuah Influence Diagram :

  • Ukuran tim
  • Untuk sistem terdiri 4-8
  • Untuk sub-sistem terdiri 2-5
  • Susunan tim memiliki ahli atau orang yang berpengalaman pada sistem yang diidentifikasi, tapi sebaiknya juga memiliki anggota yang memiliki pengalaman terbatas.
  • Gunakan fasilitator independen yang berpengalaman.
  • Tentukan dengan jelas, apa yang akan dilakukan.
  • Mulailah dengan  sebuah system map untuk mendefenisikan sistem pada tingkat tertinggi.
  • Bersikap pragmatis terhadap pengaruh-pengaruh, karena kita mencoba mengetahui pengaruh antar elemen yang dapat mempengaruhi perilaku sistem, baik itu secara realistis atau tidak.

 

Referensi :

https://www.burgehugheswalsh.co.uk/Systems-Thinking/Tools.aspx

https://www.burgehugheswalsh.co.uk/Uploaded/1/Documents/Influence-Diagram-Tool-v2.pdf

Associated Course: RE141668RE141668
 
Page: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 ... 49 ()